1,21 Juta Warga Jateng Jadi Pengangguran

1,21 Juta Warga Jateng Jadi Pengangguran

Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan pada tingginya angka pengangguran. Selain itu, terdapat faktor lain yakni masih rendahnya pendidikan dan keterampilan pekerja, turut berimbas pada transformasi di sektor ketenagakerjaan.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat adanya peningkatan jumlah pengangguran nasional yang mencapai angka 9,7 juta.

Dari angka nasional tersebut, terdapat jumlah sebanyak 1,21 juta di antaranya di Provinsi Jawa Tengah.

Ida Fauziyah selaku Menteri Ketenagakarjaan merasa perlu untuk bekerja sama dan melakukan sinergi dengan banyak pihak untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Salah satunya yakni dengan Balai Latihan Kerja (BLK) yang menyelenggarakan sejumlah pelatihan guna mengantisipasi kebutuhan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja di masa pandemi dan setelahnya.

Baca Juga:  Gibran Pastikan Pemudik Yang Nekat Pulang Ke Solo Langsung Dikarantina

Sementara itu, merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat peningkatan jumlah dan tingkat pengangguran yang signifikan akibat dampak pandemi Covid-19.

Seperti yang tercatat pada data bulan Agustus 2020 lalu, jumlah pengangguran mencapai angka 9,7 juta orang dengan 7% di antaranya adalah dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Angka tersebut ada kenaikan 1,84% dibanding tahun sebelumnya.

Bahkan diperkirakan terdapat jumlah sekitar 29,12 juta orang penduduk usia kerja yang terkena imbas dari pandemi.

Saat Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2021 dan peresmian Lobby dan Talent Corner di BLK Solo pada hari Rabu (10/3/2021) kemarin, Ida mengatakan, “Adanya pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun lalu. Padahal pada 5 tahun sebelumnya kita sudah berhasil menurunkan tingkat pengangguran menjadi 4,99% pada Februari 2020”.

Baca Juga:  Minta Uang Secara Paksa ke Peziarah, Pembersih Makam Bonoloyo Ditertibkan

Untuk informasi, pihak Kemenaker saat ini tengah menyusun terkait kebijakan pelatihan vokasi agar sesuai dengan munculnya peluang usaha dan jenis pekerjaan baru di era pandemi Covid-19, seperti kebijakan triple skilling (skilling, re-skilling, dan up-skilling).

Lalu bagi pekerja ada optimalisasi pemagangan berbasis jabatan, peningkatan soft skills, perubahan kurikulum dan metode yang berfokus pada human digital online (menggunakan metode blended training).

Juga melakukan kerja sama dengan semua stakeholders terutama kepada pelaku industri untuk menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Tags: , ,