17 Tahun Konflik Keraton Solo, Budayawan UNS Sebut Warga Kota Solo Tak Diuntungkan

17 Tahun Konflik Keraton Solo, Budayawan UNS Sebut Warga Kota Solo Tak Diuntungkan

Kisruh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali terjadi pada hari Kamis (11/2/2021) kemarin.

Pasalnya, sejumlah kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yaitu GKR Wandansari alias Gusti Moeng dan GKR Timoer Rumbai serta dua penari dan seorang pembantu, mengaku dikurung orang tak dikenal di kawasan Keraton Kulon.

Mereka akhirnya bebas pada hari Sabtu (13/2/2021) setelah selama tiga hari dua malam terkurung di kawasan Keraton Kulon.

Sementara itu, KRA Dhani Nuradiningrat selaku Wakil Pengageng Sasana Wilopo, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membantah bila pihaknya sengaja mengunci Gusti Moeng dan GKR Timoer Rumbai serta dua penari dan seorang pembantu tersebut.

Terkait hal tersebut, Tundjung W Sutirto selaku Budayawan Universitas Sebelas Maret (UNS) turut angkat bicara.

Melansir tribunnews.com, Tudjung menyampaikan bahwa krisis kepemimpinan Keraton Solo belum bisa diselesaikan secara internal.

Baca Juga:  Gibran Pastikan Pemudik Yang Nekat Pulang Ke Solo Langsung Dikarantina

Ia menyebut bahwa penyebab belum terselesaikannya konflik internal Keraton Solo karena masih ada pihak-pihak yang belum terakomodasi kepentingannya.

Pada hari Sabtu (13/2/2021) kemarin, Tudjung mengatakan, “Terutama pihak-pihak yang justru berada di lingkaran Sri Susuhunan”.

Dengan begitu, pihak-pihak itu oleh putra-putri PB XII dianggap sebagai barrier atau penghalang untuk berkomunikasi secara langsung antara rayi-rayi dalem dengan Sri Susuhunan PB XII dan PB XIII.

Tudjung mengungkapkan, “Bila barrier ini masih ada maka krisis kepemimpinan akan terjadi terus menerus”.

Tidak adanya komunikasi secara langsung antara rayi-rayi dalem dengan pihak Sri Susuhunan berimbas pada renovasi keraton hingga upacara adat.

Maka dari itu, Tudjung mengimbau Keraton Solo perlu menyusun komposisi atau sintesa baru.

Baca Juga:  Top Skor Piala Menpora Merapat ke Persis Solo

Sintesa tersebut hanya dapat ditemukan oleh Keraton Surakarta sendiri. Sebab, semuanya ada di dawuh dalem.

“Kalau dawuh dalem seperti apa harus diikuti tapi memang tidak mudah,” tambahnya.

Sintesa baru yang dimaksud yaitu membuat suatu unsur seperti Panghageng.

Selain itu, Tudjung juga menilai bahwa warga Solo tidak ada yang diuntungkan dengan adanya konflik di lingkup internal Keraton Solo.

Tudjung menuturkan, “Solo ini kan digaungkan sebagai pusat kebudayaan tapi ada peristiwa-peristiwa yang secara budaya masih belum selesai”.

Solo sedang dalam suasana keprihatinan, baik Keraton Solo itu sendiri dari Sentono atau abdi dalem merasa prihatin.

“Abdi dalem tidak ada yang merasa bangga dengan krisis kepemimpinan ini”, katanya.

Tags: , ,