ABG 16 Tahun Bobol Website Kejaksaan RI, Motifnya: Iseng

ABG 16 Tahun Bobol Website Kejaksaan RI, Motifnya: Iseng

Korps Adhyaksa digegerkan dengan database atau basis data mereka diretas dan hendak dijual. Usut punya usut, peretas database Kejaksaan Agung (Kejagung) itu seorang anak baru gede (ABG) berumur 16 tahun di Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel).

Kejagung berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk membongkar sosok peretas database mereka. Kejagung memperoleh informasi dugaan peretasan dan penjualan database mereka di situs raidforums.com.

Pada hari Jumat (19/2/2021) kemarin, Leonard Eben Ezer Simanjuntak selaku Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung menyampaikan, “Dari penelusuran yang didapatkan identitas pelaku berinisial adalah M atau panjangannya ada MFW”.

Leonard menjelaskan bahwa setelah dianalisa berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa sumber data yang dijual merupakan data yang ada pada Website Kejaksaan RI dengan tautan https://www.kejaksaan.go.id.

Ia juga menyampaikan, “Dari penelusuran didapatkan total database yang diperjualbelikan sebesar 500 Mb dengan total line database sebanyak 3.086.224 dan dijual seharga 8 Credit (Sekitar Rp 400.000)”.

Pihaknya memastikan, sumber data yang dijual sifatnya terbuka untuk umum atau publik dan tidak terhubung secara langsung dengan database kepegawaian yang ada pada aplikasi Simkari.

Menurut data sample yang diperoleh dapat diketahui bahwa data yang dijual merupakan data akun admin web Kejaksaan RI yang menunjukkan username dan password yang kemungkinan menggunakan algoritma hashing password, daftar pegawai Kejaksaan RI, informasi perkara yang memang dikonsumsi oleh masyarakat, dan juga command line pelaku dalam melakukan dumping data pada Website Kejaksaan RI.

Baca Juga:  Kronologi Tragedi Kanjuruhan Malang

Tim Kejaksaan melakukan investigasi dan pemeriksaan terhadap beberapa pengguna dari yang namanya tercatat di dalam data tersebut.

Didapat kesimpulan bahwa user tersebut yakni user untuk masuk ke dalam website Kejaksaan.

Tim Kejaksaan pun memancing yang bersangkutan dengan membeli data base Kejaksaan RI di raidforums.com dan mendapatkan data kejaksaan yang dijual dalam bentuk file csv.txt 259,127 Kb dan file bin.txt sebesar 244,900 Kb dengan total line data base sebanyak 3.086.224.

“Dari penelusuran didapatkan identitas pelaku dengan inisial F, username, twitter, group : INDOGHOSTSEC, telegram/whatsapp, dan website yang bersangkutan,” terangnya.

Bekerjasama dengan Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN), serta komunitas hacker didapat sumber data baru berupa identitas diri dari MFW, NIK, tempat tanggal lahir (16 Tahun) dan alamat di Lahat, Sumatera Selatan.

“Tim Kejaksaan Agung pada hari Kamis tanggal 18 Februari 2021 dibantu Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lahat berhasil menemukan dan mengamankan MFW di Lahat, Palembang dan selanjutnya bersama orang tuanya dibawa ke Kejaksaan Agung guna dilakukan penelitian,” ujarnya.

Baca Juga:  Kronologi Tragedi Kanjuruhan Malang

Jaksa Agung Burhanuddin pun memberikan kebijakan kepada pelaku MFW untuk tidak dilakukan proses hukum dengan beberapa pertimbangan.

Salah satunya yakni MFW saat ini masih berusia muda (16 tahun) dan masih sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di daerah Palembang.

“MFW pun telah berjanji dan membuat surat pernyataan tidak lagi mengulangi perbuatannya,” tegasnya Leonard.

Di sisi lain, orang tua MFW pun telah membuat surat pernyataan akan mendidik dan mengontrol anaknya untuk tidak melakukan perbuatan peretasan sebagaimana dimaksud.

Dengan demikian, Kejaksaan RI akan menindak tegas dan pasti bisa menangkap para hackers yang mencoba atau melakukan tindakan peretasan terhadap data-data Kejaksaan.

Sementara terkait motif, Kejaksaan Agung mengatakan bahwa bocah berinisial MWF (16) yang diduga meretas dan menjual basis data atau database milik Kejaksaan RI melakukan aksinya untuk mengisi waktu luang.

Leonard menuturkan, “Iseng saja dia, karena waktu dan pendidikan sekarang secara virtual nih”.

Tags: , ,