Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Kian Intens

Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Kian Intens

Tercatat sudah lebih dua tahun terakhir aktivitas Gunung Merapi masuk di level dua atau waspada.

Beberapa kali letusan kecil juga sempat menghebohkan lantaran kolong asapnya yang menjulang tinggi.

Tetapi, hal tersebut tak membuat masyarakat sekitar merasa panik.

Aktivitas Gunung Merapi masih terus berlanjut, bahkan hingga saat ini aktivitas vulkanik semakin intensif dengan kejadian gempa vulkanik dangkal yang rata-rata mencapai enam kali per hari. Sementara untuk gempa multiface sebanyak 83 kali per hari.

Hal tersebut menunjukkan waktu erupsi berikutnya semakin dekat. Menurut data pemantauan tersebut, diperkirakan erupsi berikutnya tidak sebesar tahun 2010. Tetapi, cenderung mengikuti perilaku erupsi 2006.

Hanik Humaida selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menuturkan, “Erupsi Merapi sebuah keniscayaan. Hidup harmoni sudah menjadi bagian pola hidup masyarakat Gunung Merapi”.

Baca Juga:  Tren Tanaman Hias Jadi Ide Tema Perayaan Festival Akhir Tahun

Menurutnya, erupsi Gunung Merapi tahun ini jauh berbeda dengan erupsi 2010 dan 2006.

Erupsi kali ini memiliki rangkaian panjang, yang dimulai Mei 2018. Di mana erupsi tahun ini didominasi dengan gas yang bersifat eksplosif. Tetapi, indeks eksplosifitasnya terendah yaitu 1. Indeks eksplosifitas itu masih seperseribunya dari erupsi 2010 lalu.

Selain itu, tak terasa empat hari lalu tepat satu dekade Gunung Merapi meletus. Tepatnya pada 26 Oktober 2010.

Bencana alam yang berdampak ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu telah menewaskan 353 warga.

Salah satu yang menjadi korban yakni Raden Ngabehi Surakso Hargo atau yang kerap disapa Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi.

Momen 10 tahun lalu tersebut masuk terbilang erupsi besar. Erupsi Gunung Merapi dengan indeks 4 ini pernah terjadi seratus tahun lalu, yaitu pada 1872.

Baca Juga:  Jika Vaksin Corona Sudah Didistribusikan ke Solo, FX Rudy Akan Memprioritaskan Untuk Nakes

Hanik menyebut bahwa erupsi 2010 memberikan pembelajaran yang sangat berarti dalam pengelolaan bencana gunung api.

Apalagi, saat erupsi 2010 itu Undang-Undang Penanggulangan Bencana belum lama terbentuk dan pemerintah daerah (pemda) belum membentuk badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) yang menangani bencana.

Belum terbentuknya lembaga khusus untuk menangani kebencanaan tersebut membuat kegiatan mitigasi dilakukan oleh berbagai pihak. Peneliti, operasional penanggulangan bencana, pemerintah, nonpemerintah, relawan, dan masyarakat.

Erupsi 2010 tersebut memberikan pelajaran berharga dalam mitigasi bencana gunung api.

“Evaluasi dan analisis data harus tetap dilakukan. Informasi harus tersampaikan kepada pemerintah dan masyarakat”, jelas Hanik.

Tags: , ,