Alasan HAM, Penjual Olahan Daging Anjing Karanganyar Nekat Buka Warung

Setahun sejak pemberlakuan Peraturan Bupati atau Perbup Karanganyar terkait larangan konsumsi hewan nonpangan, rupaya masih ada sejumlah warung penjual kuliner ekstrim, seperti daging anjing nekat beroperasi.

Diketahui ada dua warung di wilayah Kecamatan Gondangrejo masih menjual daging anjing. Padahal Perbup Karanganyar No 74/2019 salah satunya melarang setiap orang atau kelompok melakukan usaha penjualan/pemotongan daging baik  mentah atau olahan dari hewan nonpangan untuk dikonsumsi.

Tahun lalu, perbup ini dibuat karena adanya rekasi dari komunitas pecinta hewan peliharaan, diantaranya Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) dan komunitas Animal Friends Yogyakarta yang saat itu menemui Bupati Karanganyar, Juliyatmono, 2019 silam.

Perbup yang diresmikan ini berujung pada penutupan sejumlah warung olahan daging anjing di Kabupaten Karanganyar. Tercatat pada akhir Juni 2019 silam, dinas terkait mendata ada 53 warung yang menjajakan daging nonkonsumsi itu.

Warung yang ditutup ini diberikan dana insentif dari Pemkab sebesar Rp 5 juta sebagai modal ganti usaha. Namun diakui oleh para pelaku usaha, selama setahun mereka mengalami penurunan omset, bahkan ada dari mereka yang berganti-ganti usaha.

Baca Juga:  Hotel Bintang 4 dengan Pemandangan Kampung Batik Sudah Dibuka

Sementara itu ada pula yang nekat menjual olahan daging anjing. Berdasarkan data yang diinformasikan, ada dua warung di daerah Kecamatan Gondangrejo tersebut hingga akhirnya mendapat laporan dari warga setempat.

Bupati menindaklanjuti laporan warga tersebut dengan mengirimkan Satpol PP Karanganyar ke warung yang menjual daging olahan anjing tersebut.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Satpol PP Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, mereka yang nekat berjualan olahan anjing karena mengaku tidak termasuk pelaku usaha yang menerima insentif modal ganti usaha tersebut. Bahkan ada yang nekat berjualan meski sudah disita banner warungnya dengan alasan hak azazi manusia

Dari dua pemilik warung itu, petugas mendapat informasi pedagang kuliner daging anjing ternyata memiliki komunitas.

Satpol PP Karanganyar masih menyelidiki komunitas pemilik warung penjual daging anjing tersebut. Yopi mengakui sejumlah pemilik warung di kecamatan lain juga masih membuka usaha yang sama.

Baca Juga:  Dua Pelajar Jadi Tersangka Kasus Pembakaran Truk Satpol PP Sukoharjo

“Ini kan tidak bisa kalau ditangani Satpol PP sendiri. Harus ada tim. Dari tingkat RT hingga dinas terkait di tingkat kabupaten. Kalau lingkungan merespons, saya kok yakin mereka tidak akan nekat berjualan. Butuh sinergi,” tutur Yopi.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyampaikan komitmen yang sama dengan setahun lalu. Bupati berharap masyarakat ikut serta mengawasi aktivitas jual beli daging anjing di Karanganyar.

Ia pun mempersilakan masyarakat melapor jika mendapati ada warung kuliner daging anjing. “Yang mana (masih ada yang berjualan)? Pasti akan kami tindak lanjuti,” ujarnya singkat.

Berdasarkan Undang Undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 1 Ayat (1) mengatakan bahwa anijing bukan termasuk dalam makanan konsumsi karena bukan dari sumber hayati produk peternakan, kehutanan atau jenis lainnya

Tags: , ,