Alhamdullilah, ‘GeNose’ Detektor Covid-19 Lewat Hembusan Napas Buatan UGM Dapat Menunjukkan Hasil Hanya 3 Menit

GENOSE UGM

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta terus melakukan inovasi untuk memberikan sumbangsih bagi dalam masa pandemi covid-19 lewat ‘GeNose’ detektor covid-19 yang dapat menunjukkan hasil hanya dalam rentang waktu 3 menit (25/9/2020).

GeNose ini secara ringkas bekerja dengan mendeteksi hembusan napas seseorang dengan bantuan artificial intelligence untuk menganalisis partikel napas lalu menunjukkan hasil. GeNose pun dapat digunakan secara mandiri.

Inovasi yang dilakukan UGM tersebut sebagai bentuk kontribusinya untuk mencegah persebaran pandemi saat ini di tanah air yang terus menunjukkan peningkatan. Para ahli pun memprediksi bahwa puncak pandemi covid-19 belum seperti saat ini, bahkan hingga tahun 2021.

“Prediksi paling optimis diperoleh dengan menggunakan model hybrid kompartemen SIR-Regresi-runtun-waktu, diperkirakan pandemik akan berakhir di pertengahan Februari 2021 dengan total kasus positif minimal 322 ribu penderita,” kata Dedi Rosadi Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM).

Para peneliti dari UGM pun merespon perkiraan berdasarkan statistik yang disampaikan Rosadi dengan terus melakukan inovasi dan pemantapan atas GeNose, untuk mendeteksi seseorang terpapar covid-19 lewat hembusan napas manusia. GeNose tersebut pun diklaim dapat memberikan hasil presisi lebih cepat dan praktis dibandingkan alat pendeteksi lainnya.

“Di sini kami perkenalkan GeNose yang bisa mendeteksi dan memberikan keputusan, dalam waktu tiga menit,” tutur Dian Kesumapramudya Nurputra selaku Anggota Tim Peneliti GeNose dari UGM (24/9/2020).

Pemerintah dalam hal ini Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyambut baik temuan peneliti UGM. Dia juga berharap inovasi anak bangsa tersebut sesegera mungkin dapat dirasakan warga secara luas dalam memerangi pandemi.

“Jadi mudah-mudahan bulan Desember kita sudah bisa, masyarakat maksudnya secara luas sudah bisa menggunakan GeNose ini paling tidak untuk screening,” pungkas Bambang (25/9/2020).

Rencana pengembangan dan uji klinis untuk tingkat kedua pun terus digalakkan sebagai bentuk percepatan GeNose agar segera masuk tahap produksi.

“Keberadaan alat ini memang sudah ditunggu, namun kami harus tetap disiplin mengikuti clinical test yang kedua ini selesai. Mengenai hilirisasi, kami akan bekerja sama dengan industri dan bimbingan serta dukungan Kemenristek/BRIN serta mitra kami BIN untuk pengembangannya,” pungkas Paripurna selaku wakil rektor UGM.

GeNose yang masih terus dikembangkan diprediksinya harganya mencapai Rp 40 Juta, karena menggunakan pendekatan 4.0 dalam penelitian dan pengembangannya.

Tags: , , ,