Ancaman Bahaya di Balik Euforia Bitcoin

Ancaman Bahaya di Balik Euforia Bitcoin

Kepopuleran mata uang kripto Bitcoin kembali meningkat. Hal tersebut dipengaruhi oleh keputusan mengejutkan dari Tesla Inc.

Seperti yang diketahui, produsen mobil listrik milik Elon Musk tersebut, mengaku telah menginvestasikan US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21 triliun di Bitcoin.

Tak hanya itu saja, perusahaan tersebut bahkan juga berencana akan mengizinkan pengguna untuk membeli mobil listriknya dengan Bitcoin.

Sebelumnya PalPay juga telah mengizinkan pengguna di Amerika Serikat (AS) untuk jual beli Bitcoin dan membayar tagihan dengan Bitcoin.

Tak ayal, dua aksi dari perusahaan besar tersebut akhirnya memicu sentimen akan semakin tingginya adopsi Bitcoin dalam transaksi keuangan di masa depan.

Harga Bitcoin sempat naik tinggi dan hampir menyentuh US$ 50.000 per koin.

Baca Juga:  Pria Ini Raup Rp 667 Juta dalam 6 Minggu Berkat Aset Kripto NFT

Namun, ada bahaya besar di balik semakin populernya mata uang kripto tersebut.

Menurut Bhima Yudhistira selaku Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), bahwa semakin besar porsi transaksi Bitcoin maka bank sentral akan semakin kehilangan kendali atas kebijakan moneter.

Misalnya, suku bunga acuan dan suntikan likuiditas ke pasar.

Padahal kebijakan moneter dibutuhkan untuk menyokong target pertumbuhan ekonomi suatu negara untuk mensejahterakan warganya.

Akibatnya, dengan semakin meningkatnya transaksi Bitcoin juga akan membuat legitimasi mata uang resmi sebuah negara menjadi jatuh.

Mengutip dari CNBC Indonesia pada hari Selasa (16/2/2021) kemarin, Bhima mengatakan, “Dibanding hebohnya Dinar Dirham kemarin, Bitcoin jelas lebih membahayakan legitimasi mata uang rupiah”.

Baca Juga:  Aplikasi Facebook dan Instagram Sempat "Down"

Tidak hanya itu saja, transaksi mata uang digital itu tidak tercatat oleh bank sentral, sehingga Bitcoin rawan digunakan untuk transaksi ilegal lintas negara.

Misalnya untuk transaksi narkoba, perjudian hingga pendanaan terorisme dan pencucian uang hasil korupsi.

Bhima juga tidak menyarankan bahwa mata uang kripto tersebut sebagai alternatif investasi legal.

Ia menyebut bahwa uang harus diinvestasikan di produk saham, obligasi, reksadana, properti hingga emas.

“Dengan hadirnya Bitcoin, uang tidak masuk ke investasi yang seharusnya. Dampaknya bisa berpengaruh ke likuiditas untuk membiayai investasi di dalam negeri”, jelasnya.

Tags: , ,