BCA Salah Transfer Puluhan Juta, Nasabah Penerima Dilaporkan ke Polisi

BCA Salah Transfer Puluhan Juta

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melaporkan seorang nasabah atas nama Ardi Pratama ke kepolisian terkait kasus salah transfer yang dilakukan oleh karyawannya di BCA Citraland, Surabaya, Jawa Timur.

Dalam keterangan tertulisnya hari Kamis (25/2/2021) kemarin, Hera F Haryn selaku Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA mengatakan, “Dapat kami sampaikan bahwa kasus tersebut sedang dalam proses hukum dan BCA tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan”.

Ia menjelaskan, bahwa BCA sebagai lembaga perbankan selama ini telah menjalankan operasional perbankan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Selain itu, Hera juga menyampaikan bahwa jika terjadi kesalahan transfer oleh bank, nasabah wajib mengembalikan uang tersebut. Penguasaan dana hasil transfer oleh seseorang yang diketahui atau patut diketahui bukan miliknya diancam pidana yang diatur dalam Pasal 85 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana.

Penyataan Hera tersebut adalah soal kasus yang dialami oleh Ardi Pratama, warga Surabaya. Ardi yang bekerja sebagai makelar mobil akhirnya dipenjara karena menggunakan dana Rp 51 juta yang masuk ke rekening BCA-nya pada 17 Maret 2020.

Tanpa ada firasat apapun, Ardi berbelanja dan membayar utang dengan uang yang dianggapnya merupakan hasil dari komisi penjualan mobil yang seharusnya diterima.

Mengutip dari kompascom hari Rabu (24/2/2021) lalu, Kuasa hukum Ardi Pratama mengaku melihat kejanggalan yang menjerat kliennya.

Baca Juga:  Mandalika Resmi Tak Gelar MotoGP Indonesia 2021

R Hendrix Kurniawan selaku kuasa hukum Ardi Pratama menyampaikan bahwa awal mula kasus yang menimpa kliennya itu terjadi pada 17 Maret 2020.

Berawal dari pihak BCA melakukan setoran kliring yang tersasar ke rekening kliennya.

Pengiriman uang itu dilakukan oleh back office BCA berinisial NK. Hendrix menjelaskan bahwa NK mengaku salah input nomor rekening yang berbeda dua digit di belakangnya.

Hendrix mengatakan, “Itu bukan alasan sih, mau beda di mana pun kalau namanya beda, ya tetap keluarnya beda”.

Hendrix menambahkan, “Dia makelar mobil, karena pas dicek itu tidak ada identitas pengirimnya, hanya kliring BI. Akhirnya dipakailah uang itu untuk keperluannya seperti belanja dan bayar utang”.

Selang 10 hari, tepatnya tanggal 27 Maret, pihak BCA baru mengetahui kalau mereka salah mentransfer uang.

Hal tersebut diketahui setelah adanya komplain dari pihak yang seharusnya menerima transfer uang tersebut.

“Nah, begitu dicek, masuklah ke klien saya atas nama Ardi Pratama, dan pada hari itu juga ada petugas Bank BCA yang datang ke rumah klien kami, diwakili oleh NK dan I yang saat ini mereka berdua adalah sebagai pelapor dan saksi”, ungkap Hendrix.

Kedatangan kedua pegawai bank itu untuk memberi tahu kalau ada dana salah transfer ke rekening kliennya.

Baca Juga:  Akhir Pelarian Singkat Buron Teroris Nouval Farisi

Pada saat itu juga Ardi baru mengerti bahwa sumber dana itu adalah milik nasabah BCA lain yang tersasar ke rekeningnya.

Namun, kliennya saat itu baru bisa mengembalikan dana yang sudah terpakai dengan cara diangsur karena saat itu awal pandemi melanda.

“Klien kami sejak tanggal 27 Maret itu memang sudah menyanggupi untuk mengembalikan dana tersebut dengan cara dicicil”.

Kemudian ada somasi tanggal 31 Maret dari pihak BCA. Tanggal 2 April dipanggil pihak BCA dan dihadiri oleh klien kami. Menyanggupi mengembalikan dengan cara dicicil namun ditolak.

Pada intinya, pihak BCA minta uang tersebut dikembalikan secara utuh Rp 51 juta.

Hendrix juga mengatakan bahwa kliennya berusaha untuk meminta keringanan agar bisa dicicil.

Untuk menunjukkan iktikad baiknya, Ardi melakukan setor tunai sebanyak Rp 5 juta ke rekening BCA pribadi, sehingga ada dana mengendap lebih kurang Rp 10 juta.

Akhir Agustus, muncul laporan kepolisian dari pelapor NK yang intinya melaporkan Ardi telah dengan sengaja menggunakan uang yang sudah diketahui salah transfer tersebut.

Ardi pun akhirnya dipanggil polisi dengan status sebagai saksi pada Oktober 2020.

Pada 10 November 2020, Ardy resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 dan TPPU UU Nomor 4 Tahun 2010.

Tags: , ,