Buronan Suap Mahkamah Agung Hiendra Soenjoto Ditahan KPK

Buronan Suap Mahkamah Agung Hiendra Soenjoto Ditahan KPK

Tersangka Hiendra Soenjoto (HSO) malam ini langsung ditahan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penahanan Hiendra dilakukan setelah yang bersangkutan sempat menjalani pemeriksaan intensif di Gedung KPK Merah Putih Jakarta.

Hiendra Soenjoto sebelumnya diketahui merupakan buronan kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) suap gratifikasi di Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia.

Pantauan wartawan, tersangka Hiendra tampak terlihat keluar dari ruangan pemeriksaan KPK pada sekitar pukul 18:45 WIB. Hiendra mengenakan rompi tahanan warna oranye dengan tangan terborgol hanya terdiam saat dibawa petugas KPK menuju ruangan konferensi pers.

“Informasi selengkapnya terkait (penangkapan dan penahanan) tersangka HSO (Hiendra Soenjoto) disampaikan dalam konferensi pers yang digelar malam ini di Gedung KPK Jakarta,” kata Ali Fikri kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta Merah Putih, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2020).

Hiendra sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam kasus perkara mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi (NHD). Tak lama setelah ditangkap, Hiendra Soenjoto langsung dibawa ke Gedung KPK Merah Putih Jakarta.

Menurut Ali, tersangka Hiendra telah selesai menjalani pemeriksaan secara intensif yang dilakukan penyidik KPK. Namun Ali untuk sementara belum menjelaskan lebih detail penangkapan terhadap tersangak yang bersangkutan (Hiendra Soenjoto).

Hiendra sebelumnya diketahui merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap-gratifikasi Rp 46 miliar yang menjerat Nurhadi. Hiendra yang merupakan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) dijerat sebagai tersangka pemberi suap atau penyuap.

Kemudian Hiendra Soenjoto bersama Nurhadi dan Rezky ditetapkan KPK sebagai buronan pada Februari 2020. Sedangkan 2 orang tersangka lain yakni Nurhadi dan Menantunya Rezky Herbiyono sudah masuk dalam tahap persidangan.

Dalam persidangan ternyata, jaksa menyebut jumlah suap-gratifikasi yang diterima Nurhadi dan menantunya lebih dari Rp 46 miliar. Terdakwa Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali.

Tersangka Nurhadi dan Rezky disangkakan dengan dakwaan telah menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2014 hingga 2016. Mereka diduga telah menerima uang suap sebesar Rp 45,7 miliar dan menerima gratifikasi sebesar Rp 37,3 miliar.

Jika ditotal penerimaan suap dan gratifikasi, keduanya menerima suap dan gratifikasi sebesar Rp Rp 83 miliar.

Terdakwa Nurhadi dan Rezky Herbiyono disangkakan telah melanggar Pasal 12 huruf a dan 12B atau Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 64 dan 65 ayat 1 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Tags: , ,