Curi Uang Kripto Termasuk di Indonesia, AS Dakwa 3 Peretas Korut

Curi Uang Kripto Termasuk di Indonesia, AS Dakwa 3 Peretas Korut

Pada hari Rabu (17/2/2021) kemarin, Departemen Kehakiman Amerika Serika (AS) mendakwa tiga pejabat intelijen militer Korea Utara (Korut) melakukan pencurian mata uang digital secara global, termasuk di Indonesia.

Serangan siber untuk mencuri mata uang kripto dan tradisional dari bank serta target lainnya tersebut senilai total US$ 1,3 miliar.

Sebuah perusahaan pertukaran mata uang digital di Indonesia disebut sebagai salah satu korban dalam dakwaan AS tersebut.

Mengutip AFP pada hari Kamis (17/2/2021) ini, dakwaan AS menyampaikan bahwa tiga pejabat Korut yang disebut sebagai ‘peretas’ itu melakukan pencurian siber dari bank-bank dan ATM di berbagai negara, juga merampok perusahaan mata uang digital dan mencuri mata uang digital dari berbagai target di banyak negara.

Untuk perampokan perusahaan mata uang digital, peretas Korut disebutkan menargetkan perusahaan pertukaran mata uang digital di Slovenia dan Indonesia.

Secara khusus untuk Indonesia, Departemen Kehakiman AS menyebut peretas Korut mencuri US$ 24,9 juta (sekitar Rp 350 miliar) pada tahun 2018 lalu.

Baca Juga:  Aplikasi Facebook dan Instagram Sempat "Down"

Dalam keterangan persnya, Departemen Kehakiman AS mengatakan, “Menargetkan ratusan perusahaan cryptocurrency dan melakukan pencurian cyrptocurrency senilai puluhan juta dolar (AS), termasuk US$ 75 juta dari sebuah perusahaan cryptocurrency Slovenia pada Desember 2017, dan US$ 24,9 juta dari sebuah perusahaan cryptocurrency Indonesia pada September 2018″.

“Dan US$ 11,8 juta dari perusahaan jasa keuangan di New York pada Agustus 2020 di mana para peretas menggunakan aplikasi CyptoNeuro Trader yang berbahaya sebagai pintu belakang,” sambungnya.

Mengutip Channel News Asia, Departemen Kehakiman AS menyebut tindakan pertama terhadap Pyongyang oleh Pemerintahan Joe Biden tersebut sebagai “kampanye kriminalitas global” yang Korea Utara lakukan.

Selain itu, mereka mengembangkan platform blockchain untuk menghindari sanksi dan secara diam-diam mengumpulkan dana untuk Pemerintah Korea Utara.

Ketiganya disebut tergabung dalam Biro Umum Pengintaian (RGB) atau disebut juga sebagai unit peretasan pada intelijen militer Korut.

Baca Juga:  Pria Ini Raup Rp 667 Juta dalam 6 Minggu Berkat Aset Kripto NFT

Biro tersebut juga dikenal sebagai Lazarus Group atau APT 38 oleh komunitas keamanan siber.

Menurut dokumen dakwaan Departemen Kehakiman AS yang diakses dari situs resminya, perusahaan pertukaran mata uang digital di Indonesia yang menjadi korban peretas Korut itu berlokasi di Jakarta. Namun nama perusahaannya tidak disebutkan lebih lanjut dalam dakwaan itu.

AS mendakwa ketiganya melakukan peretasan terhadap perusahaan-perusahaan yang memasarkan dan memperdagangkan mata uang digital seperti Bitcoin, dan mengembangkan platform blockchain untuk menghindari sanksi dan secara diam-diam mengumpulkan dana.

Ketiganya diduga beroperasi dari luar Korut, termasuk dari Rusia dan China, saat meretas komputer menggunakan teknik spear-phishing dan mempromosikan aplikasi mata cryptocurrency yang bermuatan software berbahaya yang memungkinkan untuk mengosongkan dompet mata uang digital korban.

Tags: , ,