Dalam Investasi dan Bisnis, Untung atau Rugi itu Pasti

Sebagai seorang pengusaha muda yang aktif dalam berinvestasi, Dani Kusuma, 29, membagikan pengalamannya. Dia  menjelaskan bahwa dalam berinvestasi dia bisa pasif saja atau bisa setengah aktif. Sebagai  contoh berinvestasi dalam saham, seseorang  bisa pasif saja tanpa berbuat apa-apa dan deviden akan datang setiap tahun sedangkan nilai saham itu bisa naik turun sendiri.

Untuk kasus setengah aktif, contohnya bisa seseorang yang memiliki sebidang tanah bisa meminjamkan tanahnya untuk digunakan usaha oleh orang lain. Dalam hal ini tentu saja pemilik tanah akan setengah aktif dalam mengelola usaha yang berjalan. Setengah aktif disini dengan cara pemilik tanah melakukan pengawasan atas kegiatan operasional usaha yang berjalan karena jika terjadi sesuatu pada bisnis tersebut juga akan berdampak pada tanah yang digunakan.

“Untuk berinvestasi ada yang pasif ada yang setengah aktif tapi lebih banyak yang pasif.” Jelas Dani dalam wawancara eksklusifnya dengan Soloraya.id di Kadja Café & Flower, Rabu (15/10/2020)

Terkait jumlah timbal balik atau keuntungan yang bisa didapat, Dani mengacu pada legalitas yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Misalnya Bank hanya mematok deposito sebesar 6 persen, kemudian kredit mereka di sekitar 11-12 persen, berarti secara logika jika seseorang berinvestasi normalnya akan mendapat keuntungan 10-17 persen  jika suku bunga mengikuti bank.  Jika ada investasi yang menjanjikan timbal balik atau keuntungan sampai 100 persen, berarti investasi tersebut memiliki indikasi sebagai investasi bodong karena tolak ukur timbal baliknya sangat jauh sekali dengan suku bunga yang sudah ditentukan.

Baca Juga:  Satpol PP Karanganyar Klaim Kesadaran Mengenakan Masker Meningkat

Untuk investasi benda seperti tanah, timbal baliknya bisa mencapai 25 persen namun tergantung lokasinya,  bisa juga sampai 50 persen jika tanah itu berada di lokasi yang strategis, dekat dengan jalan utama di sebuah kota atau kebetulan tanah itu berada di lokasi proyek jalan besar yang akan atau sedang  dibangun oleh pemerintah.

Memasuki masa pandemi ini, investasi saham sedang menjadi tren karena pasar saham dianggap paling cepat pulih meski ada benturan ekonomi. Sebagai contoh, pasar IHSG yang sempat turun drastis dari 6000 menjadi 4000 karena masa pandemi, saat ini sudah berada di posisi 5000. Jadi dalam hal ini Dani mendorong untuk masyarakat mulai mempelajari saham sedikit demi sedikit.

“Sudah dipastikan saat pandemi ini selesai, saham-saham dari perusahaan besar akan naik lebih tinggi dibanding sebelum Corona.” Tambah Dani  yang merupakan lulusan dari University of Washington, Seattle, AS, jurusan Teknik Sipil.

Saat ini Dani sendiri juga melakukan investasi di berbagai lini, diantaranya ada saham tentunya, kemudian ada beberapa tabungan deposito, dan sebidang tanah yang dia beli saat harga sedang murah-murahnya. Untuk investiasi bisnis yang saat ini dikerjakan salah satunya adalah Kadja Café & Flower yang berlokasi di Jl. Moh. Husni Thamrin No.17, Manahan, Solo.

Kafe ini dia dirikan sejak 2016 bersama istrinya. Konsep yang disuguhkan adalah kafe yang bernuansa bunga dan girls-friendly yang merupakan inisiatif dari istrinya yang memang penggemar bunga. Karena nuansa bunga yang diberikan, kafe ini tidak hanya menjual FnB saja tapi juga bunga. Kafe ini merupakan salah satu investasi bisnis setengah aktif yang dia kerjakan.

Baca Juga:  Tak Berizin dan Berkerumun, Lomba Mobile Legends di Solo Dibubarkan

Kadja Café & Flower ini sengaja dibuat Dani untuk memberikan informasi bahwa ada kafe yang ramah untuk kaum perempuan. Selain itu Dani juga ingin memberikan atmosfir yang berbeda. Awalnya kafe ini didirikan di area belakang kampus Universitas Negeri Surakarta “Sebelas Maret” (UNS), namun tiga tahun terakhir pindah ke lokasi yang sekarang.

Menu makanannya sendiri lebih pada makanan ringan dan minuman, seperti kopi, teh, milk base beverages dan masih banyak lagi. Menu-menu ini dipilih karena pada dasarnya Kadja Café & Flower menjadi tempat bagi para mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang membutuhkan tempat yang nyaman dan akses internet yang cepat. Harga menunya sendiri berkisar antara Rp. 10 ribu hingga Rp. 30 ribu.

Sebagai seorang pengusaha muda yang sudah cukup lama aktif dalam dunia bisnis dan investasi, Dani menegaskan bahwa untung rugi itu sudah biasa dan tidak bisa dihindarkan, bahkan dirinya juga mengaku pernah menjadi korban investasi bodong. Saat dia mengalami kerugian, yang dia lakukan adalah menganalisis penyebab-penyebab kerugian yang terjadi, seperti menganalisa rasa makanan dan minuman, harga yang ditawarkan hingga segmennya.

Tags: , , , ,