Dari Wilayah Rawan Bencana Merapi, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Dari Wilayah Rawan Bencana Merapi, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Di tempat evakuasi sementara (TES), jumlah warga yang memutuskan untuk mengungsi terus bertambah.

Terutama yakni mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi.

Dimulai pada hari Jumat malam (6/11/2020) lalu, sebanyak 75 orang asal Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, memilih tidur malam di aula desa sebagai barak pengungsian.

Lalu pada Sabtu sore (7/11/2020) lalu, menyusul warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang sebanyak 63 orang yang memutuskan untuk mengungsi di balai desa setempat.

Di hari yang sama, warga Tegalmulyo yang mengungsi semakin bertambah menjadi 108 orang dan untuk warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang belum ada yang memutuskan untuk mengungsi.

Jainu selaku Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Pemdes Balerante menuturkan, “Pemerintah desa akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi warga yang berada di KRB III. Terutama warga di tiga dusun, yakni Sambungrejo, Ngipiksari, dan Gondang. Mengingat status Merapi naik menjadi siaga, ditambah aktivitasnya semakin meningkat”.

Pihaknya menjelaskan bahwa pemerintah desa telah menyarankan kepada warga KRB III segera mengungsi pada hari Sabtu (7/11/2020) sore pukul 16.00.

Baca Juga:  Pemkab Karanganyar Minta Jangan Ada PHK Besar-Besaran Imbas UMK Naik

Terutama yakni mereka yang masuk dalam kelompok rentan seperti lansia, anak-anak hingga orang sakit.

Mengingat ketika situasi darurat dikhawatirkan tidak ada armada untuk mengangkut.

Jainu menjelaskan, “Dari 67 orang dievakuasi itu terdapat dua orang sakit. Satu orang lumpuh berasal dari Dusun Sambungrejo. Sedang satu orang lain menderita stroke dari Dusun Gondang”.

Ia juga menyampaikan bahwa pada malam hari mereka memilih tidur malam di barak pengungsian. Sedangkan pada hari Minggu (8/11/2020) pagi, terutama yang masih muda kembali ke rumah untuk mencari pakan ternak terlebih dahulu. Sedangkan mereka yang lansia dan anak-anak tetap tinggal di balai desa.

Mengenai jumlah kepala keluarga di KRB III terdapat 112 KK dengan 504 jiwa. Apabila semuanya mengungsi ke TES dipastikan masih mencukupi.

Pasalnya, sudah didirikan tenda di lapangan milik gedung SD setempat untuk mengungsi dan untuk logistik sudah didistribusikan oleh BPBD Klaten.

Baca Juga:  Nama Solo Dipakai Bhayangkara FC, Bagaimana Nasib Persis Solo?

Jainu menambahkan, “Tetapi masih ada yang kurang, terutama lauk pauk. Soalnya selama ini yang dikirim BPBD berupa beras, mi instan, minyak goreng, teh, dan gula. Saat saya konfirmasi, lauk pauk baru akan didorong ke barak pengungsian”.

Sementara itu, Subur -Ketua Relawan Tegalmulyo- menyampaikan bahwa memang ada penambahan pengungsi di aula desa setempat. Pada malam pertama terdapat 75 orang yang mengungsi, sedangkan di malam kedua terdapat 108 orang.

Subur menuturkan, “Penambahan pengungsi karena warga menganggap sudah suatu kebutuhan demi keselamatan diri. Mereka atas kesadaran sendiri, tidak ada yang memerintah. Maka itu, saya dengan teman-teman ya kaget”.

Ia juga menjelaskan bahwa warga Tegalmulyo yang mengungsi biasanya berdatangan pukul 19.00. Lalu pada pagi hari kembali ke rumah masing-masing karena harus mencari pakan untuk ternaknya. Termasuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya sehingga dari pagi sampai sore barak pengungsian terlihat sepi.

Tags: , ,