Gegara PSBB Jakarta, Ribuan Buruh Batik Pilang Kehilangan Pekerjaan

Sebanyak 1.300 buruh batik di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.

Kepala Desa Pilang, Sukisno, mengatakan belum lama ini pihaknya mendata jumlah buruh batik yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan sebagai dampak terjadinya pandemi Covid-19.

Setelah lebih dari enam bulan terjadi pandemi, kata Sukisno, para pengusaha batik di Pilang nyaris tidak mendapatkan pendapatan.

Pasalnya, hampir semua pedagang besar yang menjadi pelanggan tetap dari sentra batik Pilang menghentikan pesanan karena stok yang mereka miliki belum laku terjual.

“Jangan tanya lagi soal dampaknya. Pokoknya luar biasa sekali dampaknya. Pasar (di Jakarta) saja tidak ada yang buka. Di tengah pandemi, sekarang masyarakat berpikir bagaimana masih bisa makan tiap hari. Jadi, kalau punya uang mending dibelanjakan keperluan makan, bukan untuk beli gombal (pakaian),” ujar Sukisno yang juga pemilik usaha batik di Pilang, Senin (28/9/2020).

Baca Juga:  Pekan ini Risiko Covid-19 Sukoharjo Naik Ke Zona Merah

Sukisno menjelaskan terdapat sekitar 90 pengusaha batik baik kecil hingga besar.

Sebanyak 90% di antaranya sudah menghentikan kegiatan produksi karena daya beli masyarakat turun drastis selama terjadi pandemi Covid-19.

“Kemarin kami hitung jumlah buruh batik yang kehilangan pekerjaan itu sekitar 1.300 orang. Ya mau bagaimana lagi, sebagian pengusaha batik menutup usahanya. Sebagian buruh sudah bekerja sebagai pedagang di pasar. Sekitar 70% belum dapat pekerjaan lagi,” ucapnya.

Sukisno sendiri menghentikan usaha produksi batik miliknya dua bulan terakhir dan banting setir membuka warung ayam bakar.

Terpuruknya usaha batik itu tidak lepas dari mandeknya pencairan giro dari para pedagang batik di kota-kota besar seperti Jakarta.

Sugiyamto, pengusaha batik asal Desa Pilang menuturkan sebagian besar hasil produksi batik di Desa Pilang, Kliwonan, (Kecamatan Masaran) dan Pungsari (Kecamatan Plupuh) dipasarkan di pusat perbelanjaan Thamrin City Jakarta.

Baca Juga:  Gergaji Mobile Buatan SMK Kristen 2 Solo Siap Dipasarkan

Bahkan, kata dia, 40% pemasaran batik di Thamrin City dikuasai oleh pengusaha batik asal Sragen. “Mereka banyak yang buka kios penjualan batik di sana. Begitu PSBB diberlakukan lagi, dampaknya sudah pasti mengerikan,” ujar Sugiyamto.

Sugiyamto menjelaskan hampir semua transaksi penjualan batik tidak dilakukan secara tunai, melainkan melalui cek atau giro. Akan tetapi, datangnya pandemi Covid-19 membuat proses pencairan giro tersebut mundur 3-5 bulan.

Mundurnya pencairan giro karena pasokan batik yang dikirim pengrajin kepada penjual belum laku di pasaran. Hal itu membuat perputaran uang dari hasil penjualan batik stagnan.

Tags: , ,