Gibran Tegur Sopir Batik Solo Trans yang Viral karena Ugal-ugalan

Gibran Tegur Sopir Batik Solo Trans yang Viral karena Ugal-ugalan

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berkomitmen merespons cepat keluhan warga terhadap berbagai kejadian yang bersifat mengganggu kenyamanan masyarakat. Termasuk bus Batik Solo Trans (BST) yang beberapa waktu lalu tertangkap kamera berjalan melebihi batas jalur berkendara.

Seperti yang diketahui, aksi pengemudi bus yang terekam warga tersebut diunggah di akun instagram @visitsurakarta, pada hari Senin (12/4/2021) lalu.

Unggahan foto di media sosial yang viral tersebut bahkan sampai dikomentari oleh Wali Kota Solo yakni Gibran Rakabuming Raka.

Lewat akun @gibran_rakabuming, Gibran berkomentar bahwa akan menindak tegas sopir. Netizen lainnya juga meminta agar tidak ada lagi sopir bus yang ugal-ugalan.

“Mohon maaf. Akan kami tindak tegas,” tulis Gibran di kolom komentar.

Gibran memastikan sopir BST tersebut telah mendapatkan teguran. Menurutnya, sopir juga sudah membuat pernyataan tertulis dan berjanji tidak mengulanginya.

Pada hari Rabu (14/4/2021), Gibran mengatakan, ‚ÄĚSopir BST sudah kami tegur. Yang bersangkutan sudah minta maaf. Sudah ada pernyataan tertulis juga. Kami evaluasi”.

Pihaknya berterima kasih kepada masyarakat yang aktif melaporkan temuan-temuan lapangan.

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga mempersilakan warga melapor lewat WhatsApp (WA), medsos maupun situs Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS) Pemkot Solo.

Ia menyampaikan bahwa akan selalu aktif memantau sosial media untuk mengetahui berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan kepadanya.

“Saya terima kasih banyak. Kalau semakin sering dikirimi foto-foto, saya semakin seneng. Misalnya foto sopir BST ugal-ugalan, aspal rusak, drainase mampet, silakan”, katanya.

Di sisi lain, Sri Sadadmojo selaku Direktur PT Bengawan Solo Trans juga membenarkan bahwa sopir tersebut sudah mendapatkan teguran berupa surat peringatan (SP) 1 dan sanksi bisa ditingkatkan jika sopir kembali melakukan kesalahan.

Sri menuturkan, “SP 1 itu sudah termasuk sanksi, kalau diulangi sampai SP 3 ya kita keluarkan”.

Ia pun menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut.

Pasalnya, dengan sistem buy the service, sopir sudah digaji secara rutin tanpa harus mengejar setoran.

“Itu kan sopirnya nggak sabar antre. Padahal sudah digaji bulanan, nggak kejar setoran. Kalau dulu kejar setoran ya seperti itu masih maklum”, ungkapnya.

Tags: , ,