Gunung Merapi Di Informasikan Menggembung, Klaten Siap Siaga

Gunung Merapi Di Informasikan Menggembung, Klaten Siap Siaga

Kondisi Gunung Merapi yang di informasikan menggembung seakan tidak memengaruhi aktivitas warga yang tinggal di lerengnya, dalam hal ini di wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah.

Warga di lereng Merapi wilayah Klaten masih beraktivitas seperti biasa namun tetap waspada mengantisipasi terjadinya erupsi. Seperti salah satu warga lereng Merapi, Sri Murtini, yang berlokasi di Dukuh Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Tinggal di perkampungan yang berjarak sekitar 4 km hingga 5 km dari puncak Merapi.

Sri Murtini tetap tenang menjalankan aktivitas seperti berkebun serta mencari rumput untuk pakan hewan ternak. Jauh waktu sebelum Gunung Merapi dikabarkan mengalami penggembungan, Sri Murtini dan warga lainnya sudah terbiasa melakukan kesiap siagaan.

Ketika berkebun atau mencari rumput, warga sesekali menengok puncak gunung. Ketika puncak Merapi berkabut, warga selalu siaga sembari terus melakukan aktivitas keseharian mereka.

Terlebih jika status aktivitas Merapi meningkat dari level normal ke waspada pada 21 Mei 2018. Aktivitas berkebun atau mencari rumput tidak dilakukan kawasan dengan radius 3 km dari puncak Merapi sesuai rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

“Biasanya kan kalau mencari rumput atau di kebun menunduk terus. Kalau sekarang sesekali melihat puncak gunung. Terkadang ada kabut dan puncak tidak terlihat. Biasanya mendengarkan kalau ada suara gemuruh atau bunyi kentungan,” ucap Sri Murtini saat di wawancarai, Hari Rabu (15/7/2020).

Selain semakin waspada dengan memasang mata dan telinga, persiapan lain sudah dilakukan warga sejak status naik ke level menjadi waspada. Barang dan surat berharga pun seperti sertifikat tanah, ijazah, KK, hingga buku nikah sudah disatukan dalam tas yang sering disebut dengan tas siaga bencana.

Baca Juga:  LPPM UNS Solo Lockdown 10 Hari Imbas 2 Pejabat Meninggal Positif Covid-19

“Saya gantungkan di dekat pintu. Jadi ketika nanti sewaktu-waktu harus mengungsi mudah mengambilnya,” sambungnya

Sri Murtini menceritakan cara melakukan hal tersebut di dapatkan secara alami dari pengalaman erupsi yang kerap terjadi di salah satu gunung api teraktif di Indonesia tersebut. Sejak terdengar kabar Gunung Merapi menggembung, pemerintah Desa Sidorejo berinisiatif mengundang BPPTKG guna menjelaskan ihwal kondisi Merapi terkini.

Kegiatan tersebut dilakukan di kantor desa setempat menghadirkan narasumber serta perwakilan warga, Hari Rabu (15/7/2020).

“Kami ingin memberikan pemahaman agar masyarakat tidak menduga-duga tentang kondisi Merapi dengan mendatangkan orang yang memang ahlinya,” ujar Kades Sidorejo, Gothot Winarso.

Gothot menjelaskan persiapan terutama untuk mengungsi sebenarnya sudah dilakukan sejak status Merapi naik level waspada. Titik kumpul hingga lokasi untuk pengungsian sementara disiapkan seperti gedung serba guna di desa setempat. Tak terkecuali koordinasi dengan desa yang menjadi desa paseduluran dengan Sidorejo

Hanya saja, persiapan tersebut terlihat kembali termasuk menyesuaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Persiapan kembali dilakukan termasuk pembaruan data warga dan aset.

Salah satu tokoh masyarakat Sidorejo, Sukiman, menjelaskan pendataan ulang seperti data penduduk hingga aset-aset yang dimiliki.

“Data penduduk ini bukan seperti data sensus. Tetapi berdasarkan siapa saja yang ada di satu rumah. Termasuk data soal aset seperti ternak, serta kepemilikan kendaraan,” ucapnya.

Sukiman menjelaskan data menjadi kunci. Dan elalui data tersebut, kebutuhan logisitik bisa dipetakan mulai dari kebutuhan sembako hingga pembalut bagi wanita ketika warga benar-benar harus diungsikan. Selain hal tesebut, data juga berfungsi untuk memetakan kembali alat transportasi yang bisa digunakan untuk mengangkut warga terutama kelompok rentan hingga hewan ternak.

Baca Juga:  Pimpinan KPK Buka Suara Terkait Mobil Dinas

Staf Ahli Geologi BPPTKG Yogyakarta, Dewi Sri, menyampaikan sejak 21 Mei 2018 hingga kini status aktivitas Merapi masih berada pada level waspada. Terkait pengembungan di Gunung Merapi,

Dewi mengatakan hal itu berdasarkan hasil pengamatan menggunakan metode Electronics Distance Measurements (EDM) dan terlihat dari sisi sektor barat laut.

“Sejak 22 Juni hingga hari ini, ada pemendekan 3 mm per hari. Apa artinya dari penggembungan itu, nanti dilihat bareng-bareng mau ada apa dengan Merapi. Kami mengimbau masyarakat tidak panik namun tetap melakukan kesiapsiagaan bersama pemerintah. Harus tetap waspada karena Merapi masih waspada,” tutur Dewi.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan berbagai persiapan dilakukan selama hampir sepekan terakhir. Persiapan hal tesebut seperti memetakan kembali jalur evakuasi alternatif lantaran kondisi jalur evakuasi utama rumah parah. Persiapan lain seperti pembaruan data hingga memetakan tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan untuk pengungsian.

“Ketika skenario warga di tiga desa (terdekat dengan puncak Merapi)mengungsi semua serta menempati tiga selter, kondisi selter tidak cukup. Selter itu rata-rata berukuran 512 meter persegi, rata-rata bisa menampung 170 jiwa. Ketika disesuaikan dengan kondisi Covid-19, kapasitas hanya mampu 77 jiwa hingga 80 jiwa. Makanya, dicarikan bangunan-bangunan publik di desa penyangga pada konsep desa paseduluran yang bisa digunakan untuk menampung,” tutupnya.

Tags: , ,