Harapkan Bantuan Pemerintah, UMKM Sukoharjo Membludak 8.000

Harapkan Bantuan Pemerintah, UMKM Sukoharjo Membludak 8.000

Pendaftar program bantuan stimulus modal usaha bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM dari pemerintah pusat di Sukoharjo membludak. Pada tahap pertama, jumlah pelaku UMKM di wilayah Sukoharjo yang mendaftar untuk mendapat bantuan tersebut sudah mencapai 8.000-an UMKM.

Kini, Pemkab membuka pendaftar program stimulus modal usaha bagi pelaku UMKM di tahap II. Pembukaan pendaftaran tersebut akan ditutup pada 10 Agustus mendatang.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop dan UKM) Sukoharjo, Sutarmo, mengatakan pendaftar program stimulus bantuan modal usaha bagi UMKM dibuka kembali karena masih tingginya peminat bantuan tersebut.

Bantuan stimulus modal bagi UMKM hingga ultra mikro tersebut di Sukoharjo akan diberikan dalam bentuk bantuan modal usaha senilai Rp 2,4 juta per UMKM.

“Tahap pertama sudah ditutup dan jumlahnya yang mendaftar 8.000 UMKM. Lalu karena peminatnya masih banyak kami konsultasikan lagi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah [Menkop UKM] dan hasilnya diminta membuka kembali pendaftaran untuk tahap II,” ujar Sutarmo saat diwawancarai, hari Jumat (7/8/2020).

Sutarmo tinggal menunggu penutupan pendaftaran bantuan stimulus bagi UMKM tahap kedua. Sesuai arahan Kemenkop dan UKM, tidak ada kuota yang diberikan pemerintah pusat alias tidak terbatas.

Baca Juga:  Nikmati Acara Solo Batik Music Festival 2022 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo 1-2 Oktober 2022

Pemkab Sukoharjo, kata Sutarmo, diminta menghimpun sebanyak-banyaknya pelaku UMKM dengan sasaran usaha kecil dan ultra mikro yang membutuhkan bantuan modal. Seperti pedagang keliling, penjual wedangan kaki lima dan lainnya.
Selama ini mereka belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Bantuan bagi pelaku UMKM sejauh ini baru menyentuh untuk usaha makanan berupa Jaring Pengaman Ekonomi (JPE).

Begitu pun bantuan yang dikucurkan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Bantuan yang diterima tidak berupa uang tunai, melainkan bahan baku untuk produksi.

“Jadi bantuan yang diberikan pemerintah pusat berupa stimulus modal usaha senilai Rp2,4 juta. Bantuan ini jadi untuk modal usaha agar terjadi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sutarmo mengatakan petugas segera memverifikasi data UMKM pemohon bantuan stimulus modal usaha di Sukoharjo. Verifikasi dilakukan guna memastikan kondisi UMKM termasuk usaha yang dijalankan apakah benar ada atau fiktif.

Selain tidak salah sasaran, verifikasi juga dilakukan agar tidak terjadi duplikasi. Sutarmo mengakui kondisi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia berdampak besar pada keberlangsungan UMKM di Kabupaten Jamu tersebut.

Pelaku UMKM ikut terdampak setelah produk yang dihasilkan mengalami kesulitan pemasaran hingga menembus pasar luar negeri. Hal sama juga dirasakan pelaku usaha atau industri yang masih mengandalkan mendapatkan pasokan bahan impor dari beberapa negara.

Baca Juga:  Keraton Solo Menggelar Kirab Gunungan Sekaten Solo, Sabtu 8 Oktober 2022

Kondisi tersebut terjadi sejak awal ramai kasus penyebaran Covid-19 di sejumlah negara. Pelaku usaha khususnya yang akan menjual produk atau ekspor ke luar negeri mengalami kesulitan.

Beberapa produk mendapat pengawasan ketat sebelum dilakukan pengiriman. Dampak lainnya yakni terjadinya penurunan sejumlah permintaan dari pasar luar negeri.

Salah satu penjual jajanan jadul harum manis atau dikenal dengan sebutan rambut nenek, Sutopo, 55, warga RT 006/RW 006 Badran, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, berharap menerima bantuan modal usaha dari pemerintah pusat untuk UMKM.

Dia mengaku sudah mendaftarkan diri sebagai calon penerima bantuan stimulus modal usaha tersebut.

“Mudah-mudahan menerima bantuan. Karena selama pandemi Corona ini penjualan saya sepi sekali,” ucapnya.

Biasanya, Sutopo mulai menjajakan harum manis pukul 08.00 WIB. Kemudian dirinya bersepeda menuju sekolah di kawasan perkotaan Sukoharjo. Namun sejak pandemi Corona, sekolah dilakukan dengan sistem online sehingga berdampak pada penjualannya yang menurun drastis hingga 50 persen.

“Masih bersyukur sehari bisa laku Rp50.000. Dulu sebelum Corona sehari bisa lebih dari Rp100.000,” tutupnya.

Tags: , ,