Ini Penjelasan Cawali Solo Bagyo Wahyono Terkait Tunggakan PDAM Rp 25 Juta

Ini Penjelasan Cawali Solo Bagyo Wahyono Terkait Tunggakan PDAM Rp 25 Juta

Diberitakan sebelumnya, Cawali Solo yakni Bagyo Wahyono menunggak tagihan PDAM sebesar Rp 25 juta.

Jumlah tersebut diperoleh dari dua nomor pelanggan atas nama Bagyo dan istrinya.

Total jumlah tunggakan itu merupakan akumulasi penggunaan air selama berbulan-bulan, plus denda dan sanksi.

Bayu Tunggul Pamilih -Kepala Seksi Penertiban Perumda Toya Wening- mengatakan bahwa sudah menyampaikan surat tagihan itu kepada yang bersangkutan.

Pada hari Selasa (27/10/2020) lalu, Bayu menuturkan, “Saat tagihan menunggak tiga bulan itu, kami sudah berkirim surat agar segera dibayar dengan ancaman tutup sementara. Kemudian saat bulan keempat, kami kirim surat lagi setiap saat sewaktu-waktu bisa tutup total”.

Mengetahui kabar tersebut, Bagyo Wahyono tidak hanya diam. Bagyo mengakui bahwa ia menunggak pembayaran restribusi air bersih ke PDAM Solo.

Meski dirinya tidak tahu persis berapa nilainya, Bagyo menduga besaran tunggakan tidak sampai Rp 25 juta.

Pada hari Kamis (29/10/2020) kemarin, Bagyo menjelaskan, “Itu sebetulnya enggak segitu. (Berapa nominal pasti tunggakan) Saya ndak tahu, besok mau saya urus dulu. Saya bayar”.

Baca Juga:  Sempat Bilang Perumahan Anak Yatim Piatu Akan Dibangun di Bantaran Sungai, Bajo Klarifikasi

Bagyo juga menambahkan bahwa kemungkinan belum bisa melunasi sekaligus tunggakan pemakaian air keluarganya.

Pihaknya akan berencana membayar secara bertahap tunggakan yang ada hingga lunas.

“Tetap saya lunasi. Tapi bayar berapa dulu berapa dulu begitu,” ujarnya.

Mengenai permasalahan tentang menunggaknya biaya pemakaian air PDAM, menurutnya, karena dia mengalami kesulitan ekonomi. Order jahitannya sepi sehingga pemasukan berkurang. Uang yang ada pun ia putar untuk memenuhi sejumlah kebutuhan.

Bagyo menuturkan, “Uang saya putar-putar mas. Bukan masalah apa-apa. Jenenge penjahit kondisine kaya ngene, mana yang harus didahulukan. Wong cilik ndilalah wae kadang ya sok macet, rada kurang lancar. Intinya ada kendala atau masalah ekonomi,” ucapnya.

Ia juga menduga munculnya kabar soal tunggakan pemakaian air PDAM itu tidak lepas dari langkahnya maju sebagai cawali Solo.

Baca Juga:  Jelang Pilkada 2020, Polda Jateng Fokus Pada 2 Kabupaten Soloraya

Menurut Bagyo, kabar tersebut tidak akan muncul jika ia tidak mengikuti kontestasi Pilkada Solo 2020. Terkait apakah kabar menunggak PDAM adalah serangan politik terkait statusnya sebagai cawali? Bagyo hanya menjawab pertanyaan itu secara diplomatis.

“Itu yang bisa jawab jenengan sendiri. Lah saya istilahe nek ora nyalon ya tidak ada berita seperti itu”.

Namun ia mengaku bahwa tidak begitu terpengaruh dengan pemberitaan tersebut.

Bagyo menyadari bahwa langkah politiknya pada Pilkada 2020 pasti berkonsekuensi terhadap adanya serangan politik. Tetapi, Bagyo dan tim pemenangannya terus melangkah maju.

“Saya biasa. Sangat amat biasa. Karena itu sudah saya sadari. Jangankan itu, ini nanti kan ada serangan berikutnya yang apa, yang apa. Bagaimana pun independen harus dihentikan, mbuh piye carane. Jenengan ya wes ngerti kepiye,” jelasnya.

Tags: , ,