Kapolresta Solo Jelaskan Cara Kerja Tim Virtual Police

Kapolresta Solo Jelaskan Cara Kerja Tim Virtual Police

Tim polisi virtual atau virtual police Polresta Solo belakangan menuai banyak kritik karena beberapa kali menciduk orang terkait komentar bernada miring di media sosial.

Kabar yang terbaru, adalah memanggil pria asal Slawi bernama AM pada hari Senin (15/03/2021) lalu. AM dianggap menyebar hoaks dalam komentarnya yang bernada olok-olok terhadap Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di di unggahan akun Instagram @garudarevolution.

Sehubungan dengan itu, Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak menjelaskan bahwa virtual police merupakan tim yang dibentuk lintas satuan, yakni Satuan Reserse Kriminal, Pembinaan Masyarakat dan Humas.

Pada hari Rabu (17/3/2021) kemarin, Ade mengatakan, “Mereka bertugas memantau dan mengawasi pergerakan media sosial”.

Salah satu tugas tim ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial.

Mereka juga mengawasi percakapan maupun berita di medsos agar netizen terhindar dari pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ade menjelaskan, “Saat menemukan konten yang berpotensi melanggar, maka kami akan menginformasikan kepada pemilik akun”.

Kapolresta juga menyebut bahwa penilaian terhadap konten yang berpotensi melanggar tidak hanya dilakukan oleh polisi.

Namun, polisi juga bekerja sama dengan ahli bahasa, ahli UU ITE serta ahli pidana.

Dalam kesempatan pertama, tim akan menghubungi pemilik akun melalui direct message (DM).

“Kami melibatkan ahli pidana, ahli bahasa, maupun ahli ITE. Ketika ada potensi pelanggaran UU ITE kami meminta pendapat ahli, dari situ peringatan kami kirim via direct messengger“, ungkapnya.

Dalam pesan (DM) itu, polisi akan menyampaikan bahwa konten yang disampaikan berpotensi melanggar UU ITE dan imbauan agar segera dihapus. Apabila enggan dihapus, kepolisian akan terus mengimbau kepada pembuat konten itu.

Ade menyampaikan, dalam kasus AM, polisi sudah melakukan upaya serupa.

“Polisi sudah beberapa kali memintanya untuk menghapusnya, tapi tidak diindahkan”, kata Ade

Hal itu membuat polisi lantas memanggilnya untuk dikonfirmasi dan diminta membuat surat pernyataan.

Ade menegaskan pria berinisial AM yang menyinggung jabatan Gibran Rakabuming itu hanya menjalani pemeriksaan. AM tidak ditahan dan hanya diminta membuat klarifikasi.

“Ketika kemudian yang bersangkutan sudah menghapus postingan, membuat pernyataan meminta maaf sudah selesai. Tim sampai di situ, mengedepankan edukasi maupun penanganan yang mengedepankan restorative justice,” ujarnya.

Ade menjelaskan bahwa polisi virtual mengedepankan pendekatan persuasif. Hal itu dilakukan agar tercipta media sosial yang beretika.

“Tim virtual police hadir memberikan edukasi ke masyarakat sekaligus pengawasan terhadap pengguna media sosial, agar terwujud ruang digital yang sehat, bersih, beretika maupun produktif serta tanggung jawab”, jelasnya.

Tags: , ,