Kasus Jiwasraya, Benny Tjokro Divonis Seumur Hidup dan Bayar Uang Pengganti Rp 6 Triliun

Kasus Jiwasraya, Benny Tjokro Divonis Seumur Hidup dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp 6 Triliun

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta/Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dalam putusannya telah memvonis terdakwa Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro (Direktur Utama PT Hanson International Tbk) dengan hukuman pidana penjara seumur hidup.

Menurut majelis hakim, Benny dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atas kasus pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya.

“Menjatuhkan hukuman atas nama terdakwa Benny Tjokrosaputro dengan pidana penjara seumur hidup,” kata Rosmina Ketua Majelis Hakim di Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2020).

“Terdakwa (Benny Tjokrosaputro) juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 6,07 triliun. Jika tidak dibayar dalam waktu satu bulan setelah hukuman berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya disita,” jelasnya.

“Dalam pertimbangannya, hakim menuturkan hal-hal yang memberatkan Benny antara lain melakukan korupsi secara terorganisir sehingga sulit terungkap, terdakwa menggunakan tangan orang lain dalam jumlah banyak,” terangnya.

Majelis Hakim menyebut perbuatan Benny bersama dengan 5 orang terdakwa lain telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 16,8 triliun atas korupsi di tubuh PT AJS.

Baca Juga:  KPK Periksa 3 Saksi Kasus PT Jasindo

Angka ini berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif dalam Rangka Penghitungan Kerugian Negara Atas Pengelolaan Keuangan dan Dana Investasi pada periode Tahun 2008 sampai 2018 Nomor: 06/LHP/XXI/03/2020 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.

Benny dinyatakan terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Menurut majelis hakim, perbuatan terdakwa Benny juga terbukti melanggar Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Benny disebut menyembunyikan dan menyamarkan hasil kekayaan untuk membeli empat unit apartemen di Singapura. Rinciannya satu unit di St. Regis Residence dengan harga SGD5.693.300 dan tiga unit di One Shenton Way.

Majelis Halim menduga pembelian itu secara kredit dengan jangka waktu kredit selama 30 tahun, dengan pembayaran cicilan sebagian dari hasil tindak pidana korupsi dalam pengelolaan saham dan Reksa Dana PT AJS.

Benny pada 2015 telah membuat kesepakatan dengan Tan Kian selaku pemilik PT Metropolitan Kuningan Properti untuk pembangunan apartemen dengan nama South Hill.

Baca Juga:  Berkas Lengkap, Eks Bupati Bogor Rachmat Yasin Segera Disidang

Pada saat proses pembangunan tersebut dilakukan penjualan secara pre-sale, di mana hasil penjualan itu, Benny telah menerima pembayaran sebesar Rp 400 miliar dan Tan Kian menerima Rp 1 triliun.

Terdapat pembagian hasil penjualan apartemen yang belum terjual disepakati Terdakwa Benny mendapat bagian 70 persen dan Tan Kian memperoleh 30 persen.

Benny juga disebut menerima bagian berupa 95 unit Apartemen dan mengatasnamakan orang lain. Benny sebagai pemilik PT Blessindo Terang Jaya (perusahaan properti), pada tahun 2016 melakukan pembangunan perumahan dengan nama Forest Hill dengan mengatasnamakan bangunan berupa rumah toko (ruko) yang sudah terbangun sebanyak 20 unit atas nama Caroline.

Selain Benny, ada 4 orang lainnya yang terlibat dalam kasus ini yaitu Komisaris Utama PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat dan Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto.

Kemudian 3 orang terdakwa mantan petinggi PT Asuransi Jiwasraya yakni Direktur Utama Hendrisman Rahim, Direktur Keuangan Hary Prasetyo, serta Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Syahmirwan.

Tags: , ,