Kekeringan Mulai Melanda Klaten, Ratusan Warga Krisis Air

Kekeringan Mulai Melanda Klaten, Ratusan Warga Krisis Air

Lebih dari sebulan terakhir sekitar 500 keluarga di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten mengalami krisis air bersih. Stok air hujan yang ditandon pada bak penampungan di setiap rumah menipis setelah hujan tidak lagi turun memasuki kemarau.

Warga kini membeli air bersih dengan harga bervariasi tergantung letak kampung di desa yang berada pada lereng Gunung Merapi tersebut.

“Rata-rata Rp200.000 sampai Rp325.000 per tangki,” ujar Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno, saat diwawancarai, hari Kamis (6/8/2020).

Satu tangki air bersih berkapasitas sekitar 5.000 liter bisa dimanfaatkan setiap keluarga selama 10 hari hingga dua pekan tergantung jumlah anggota keluarga.

Air bersih yang dibeli tersebut untuk kebutuhan konsumsi serta mandi. Sementara, air untuk ternak atau perkebunan memanfaatkan air embung yang difungsikan sejak 2017 lalu.

Biasanya, warga di Tegalmulyo menjual sapi untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk membeli air bersih serta digunakan untuk membeli pakan ternak saat kemarau tiba. Muncul istilah pedet mangan sapi.

“Kalau musim seperti ini ya sapi untuk makan pedet [anak sapi]. Karena saat kemarau seperti ini mencari pakan ternak juga sulit hingga akhirnya warga menjual sapi. Rata-rata per ekor terjual seharga Rp30 juta,” ujar Sutarno.

Baca Juga:  Keraton Solo Menggelar Kirab Gunungan Sekaten Solo, Sabtu 8 Oktober 2022

Setiap rumah di Tegalmulyo beternak sapi minimal dua ekor. Sapi-sapi yang dipelihara itu menjadi tabungan bagi warga. “Kalau yang tidak punya sapi ya biasanya berutang dulu,” ucap Sutarno.

Soal bantuan, Sutarno mengatakan sekitar tiga pekan lalu ada bantuan penyaluran air bersih dari Pemkab melalui BPBD Klaten. Warga Tegalmulyo mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 10 liter tangki dengan setiap tangki berukuran 5.000 liter per pekan.

Air bantuan tersebut ditempatkan pada bak penampungan umum di setiap tepi dukuh hingga bak penampungan fasilitas umum seperti masjid.

“Dari pihak ketiga pada kemarau ini belum ada bantuan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sutarno menjelaskan tak semua warga di Tegalmulyo, Klaten, mengalami krisis air bersih. Warga yang tinggal di sekitar empat RT selama ini sudah terbebas dari krisis air bersih dengan memanfaatkan sumber air di desa tersebut.

Baca Juga:  Nikmati Acara Solo Batik Music Festival 2022 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo 1-2 Oktober 2022

Desa lainnya di Klaten yang warganya sudah mulai mengalami krisis air bersih yakni Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom. Di desa tersebut, warga yang tinggal di sekitar 12 RT dari 18 RT di Bandungan mulai membeli air dengan harga sekitar Rp110.000 per tangki.

Upaya untuk mengatasi krisis air bersih sudah dilakukan di Bandungan, Klaten, seperti membangun sumur artesis di beberapa lokasi. Tahun ini ada dua sumur artesis yang masih tahap pembangunan.

Pemerintah desa setempat berharap dengan upaya pengeboran sumur artesis bisa membebaskan seluruh wilayah Bandungan dari daerah langganan krisis air bersih.

Terkait kondisi krisis air bersih tahun ini, Kaur Umum Desa Bandungan, Andreas Budi Sasono, menjelaskan BPBD Klaten sudah menyalurkan bantuan air bersih. Bantuan tersebut diarahkan untuk ditempatkan ke fasilitas umum seperti masjid dan gereja.

“Dengan sumur artesis (masih ada yang dibangun), harapan kami ada tangan-tangan mengulurkan (bantuan) ke sini. Semakin banyak air yang dikirim, semakin banyak warga yang tertolong,” tutupnya.

Tags: , ,