Kerupuk Bisa Dijual ke Luar Negeri di Era Digital Ini

Kerupuk Bisa Dijual ke Luar Negeri di Era Digital Ini

Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan digitalisasi telah secara dramatis mengubah gaya hidup masyarakat. Berkat internet dan teknologi, bahkan kerupuk sekarang dapat dikirim ke New York.

Ini disampaikan oleh Wimboh dalam diskusi virtual dalam acara peluncuran program Digital Kredit UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) atau DigiKU.

Awalnya, Wimboh menghubungkan digitalisasi ke sistem pembayaran saat ini, di mana orang tidak perlu lagi pergi ke bank atau ATM untuk mentransfer uang, sekarang hanya melalui perangkat atau gadget mereka sendiri, uang dapat dengan mudah ditransfer melalui aplikasi digital.

Pada akhirnya, Wimboh menjelaskan, digitalisasi telah membuat persaingan bisnis bukan hanya di ranah domestik, tetapi sekarang juga secara global. Bahkan, katanya, kerupuk dapat dijual di negara Paman Sam di Amerika Serikat.

Baca Juga:  KPK Terus Gali Bukti Kasus Pencucian Uang Eks Sekretaris MA

“Ini mendorong adanya ekosistem untuk bisa dorong tenaga kerja. Kalau orang di kampung, di daerah bisa bikin barang jualnya ke mana? Di bawa ke pasar ya kalau ada yang beli demand pasti terbatas. Tetapi dengan teknologi kerupuk bisa dijual ke New York,” ujarnya.

Wimboh mengatakan, pihaknya bersama pemerintah dan otoritas lainnya berupaya untuk terus menggerakan ekonomi, sampai ke daerah yang masih sulit menjangkau teknologi.

“Indonesia penduduknya 272 juta orang. Ada yang hidup di daerah, masih banyak ibu ibu kalau anak sekolah, dia nonton sinetron. Kita ajak, kita ada program bank wakaf mikro kita ajar goreng kerupuk. Macam macam ini luar biasa, ada juga yang jadi tukang jahit, ada yang jadi tukang gado gado. Platformnya ada bisa dipasarkan di sana,” paparnya.

Baca Juga:  Gelar Webinar Nasional Pilkada Berintegritas 2020, KPK Ingatkan Kasus Tahun Politik

Wimboh juga menyebutkan bahwa sekarang tampaknya bank harus memikirkan kembali jika mereka ingin membangun cabang. Alasannya adalah bahwa saat ini, cabang tidak lagi diperlukan.

Saat ini, menurut Wimboh, bank juga perlu melakukan transformasi, di mana bank yang biasanya menyediakan layanan tatap muka atau offline sekarang juga harus menyediakan layanan online atau digitalisasi.

“Sekarang ini nasabah tidak perlu ke bank kalau mau transfer uang ke anaknya. Mau beli apa tidak perlu ke bank transfer dan dulu tahun 2000-an sampai 2010 ramai-ramai buka cabang. Setelah 2010, sekarang cabang mau ngapain?” ungkapnya.

Tags: , ,