Ketua KPK Minta Civitas Akademika Berkontribusi Dalam Pencegahan Korupsi

Ketua KPK Minta Civitas Akademika Berkontribusi Dalam Pencegahan Korupsi

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri dalam sambutannya di acara Anti-Corruption Summit (ACS) ke-4 Tahun 2020 meminta kepada civitas akademika agar dapat berkontribusi positif terutama terkait pencegahan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sedangkan tema dalam acara Anti-Corruption Summit (ACS) ke-4 2020 tahun ini adalah “Quo Vadis Pemberantasan Korupsi”. Acara tersebut digelar secara virtual (daring) yang disiarkan melalui Youtube Channel KPK.

“Anti-Corruption Summit ke-4 Tahun 2020 dapat memberikan gambaran arah ke depan bagi para stakeholder pemberantasan korupsi, khususnya civitas akademika untuk semakin berkontribusi positif dan bersinergi dalam pencegahan korupsi berbasis perguruan tinggi,” kata Firli Bahuri di Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Menurut Firli, tema itu dipilih karena sejalan dengan berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi baik pada upaya pemberantasan korupsi maupun dengan upaya adaptasi kebiasaan baru sebagai dampak wabah pandemi global Coronavirus (Covid-19).

Diketahui sejak 2016, KPK bersama mitra perguruan tinggi menyelenggarakan Anti-Corruption Summit yang merupakan konferensi puncak kegiatan kerja sama KPK dengan perguruan tinggi.

Anti-Corruption Summit kemudian menjadi forum konsolidasi gerakan pemberantasan korupsi berbasis perguruan tinggi, media berbagi best practice, evaluasi serta penyusunan rencana kolaborasi perguruan tinggi dalam pemberantasan korupsi.

Baca Juga:  Abu Bakar Ba'asyir Jatuh Sakit dan Dirawat Di Rumah Sakit

“Tema Anti-Corruption Summit tahun ini kita bersama menjawab pertanyaan pada tema tersebut, inovasi dan pendekatan baru apa yang bisa ditetapkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi agar akademisi dan mahasiswa tetap menjadi poros gerakan pemberantasan korupsi yang efektif, berdaya guna, dan berhasil guna,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Firli juga menegaskan bahwa KPK tetap berkomitmen dan bekerja keras memberantas Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Menurut Firli, pemberantasan korupsi terkait dengan bisnis, korupsi terkait dengan penegakan hukum dan reformasi birokrasi, korupsi yang terkait dengan politik, korupsi terkait dengan pelayanan publik, dan korupsi terkait dengan Sumber Daya Alam (SDA).

Sementara itu, menurutnya bahwa berdasarkan kajian dan pengalaman empiris terkait dengan sebab-sebab terjadinya tindak pidana korupsi maka pimpinan KPK periode 2019-2024 beserta insan KPK merumuskan strategi pemberantasan korupsi yang merupakan core business KPK ke dalam tiga strategi atau pendekatan.

Pendekatan pertama adalah pendekatan pendidikan masyarakat, pendekatan kedua adalah pendekatan pencegahan, dan pendekatan ketiga adalah pendekatan penindakan secara tegas.

Baca Juga:  KPK Tangkap 17 Orang Dalam Rombongan Menteri KKP Edhy Prabowo

“Pendekatan pendidikan masyarakat dilaksanakan agar masyarakat paham tentang tindak pidana korupsi dan menimbulkan perlakukan masyarakat yang tidak ingin melakukan korupsi,” terangnya.

“Melalui pendekatan pendidikan masyarakat, KPK akan membangun ahli pembangun integritas dan juga penyuluh antikorupsi,” tambahnya.

“Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan jejaring pendidikan baik formal maupun nonformal mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi,” tegasnya.

“Karena kita mengetahui perilaku korupsi juga disebabkan karena sistem apakah itu sistemnya gagal, sistemnya buruk ataupun sistemnya lemah,” tuturnya.

“Maka diperlukan untuk upaya-upaya pencegahan dalam rangka perbaikan sistem sehingga tidak terjadi korupsi karena tidak ada peluang dan tidak ada kesempatan melakukan korupsi,” ucapnya.

Terakhir adalah pendekatan penindakan, Firli menjelaskan lembaganya tetap melakukan penindakan untuk menindak tegas para pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

“Dengan tujuan agar para pelaku korupsi (koruptor) takut melakukan korupsi dan timbulnya kesadaran hukum masyarakat untuk tidak melakukan korupsi,” ujarnya.

Tags: , ,