KPK Kembali Periksa Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur Non Aktif

KPK Kembali Periksa Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur Non Aktif

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadwalkan melakukan pemeriksaan terhadap tersangka Encek Unguria Riarinda Firgasih. Yang bersangkutan diketahui merupakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) non aktif.

Encek sebelumnya diberitakan telah ditahan setelah dirinya ikut terjaring kegiatan penindakan di lapangan atau yang dikenal dengan istilah Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK.

Saat itu Encek ditangkap bersama Ismunandar dan sejumlah pihak lain saat sedang berada di Jakarta.

Encek hari ini diperiksa terkait kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menjerat suami Encek yaitu Ismunandar, Bupati Kutai Timur (Kaltim) non aktif.

Encek tampak terlihat tiba di Gedung KPK Jakarta, Encek yang mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye dengan tangan terborgol sempat berbicara singkat dengan wartawan, dirinya mengaku sehat saat menjalani proses pemeriksaan penyidik KPK.

Baca Juga:  Tersangka Kasus Suap Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK

“Alhamduliah mas, saya sehat (siap diperiksa penyidik KPK),” kata Encek kepada wartawan saat tiba di Gedung KPK Merah Putih, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2020).

Sementara itu, hingga saat ini untuk sementara belum ada penjelasan resmi dari KPK terkait apa materi penjadwalan pemeriksaan yang dilakukan penyidik KPK terhadap Encek.

Sebelumnya diberitakan, penyidik KPK menetapkan Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Ketua DPRD Kutai Timur Encek Unguria sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek infrastruktur di Pemkab Kutai Timur.

Ismunandar bersama Encek serta Kepala Dinas PU Kutai Timur Aswandini, Kepala Bapenda Kutai Timur Musyaffa, dan Kepala BPKAD Kutai Timur Suriansyah diduga menerima suap dari dua orang rekanan proyek yakni Aditya Maharani dan Deky Aryanto.

Baca Juga:  KPK Periksa 2 Saksi Terkait Kasus Suap Wali Kota Tasikmalaya

Saat menangkap para tersangka, KPK menemukan barang bukti uang Rp 170 juta, sejumlah buku tabungan dengan saldo total Rp 4,8 miliar dan sertifikat deposito senilai Rp 1,2 miliar.

Dalam konstruksi perkara, Ismunandar diduga menerima Rp 2,1 miliar dan Rp 550 juta dari Aditya dan Deky melalui Suriansyah dan Musyaffa.

Selain itu, Ismunandar, Suriansyah, Musyaffa, dan Aswandini juga diduga menerima THR masing-masing senilai Rp 100 juta dan transfer senilai Rp 125 juta untuk kepentingan kampanye Ismunandar.

Tags: , ,