KPK Kembali Periksa Satu Saksi Untuk Dalami Tersangka Fathor Rachman

KPK Kembali Periksa Satu Saksi Untuk Dalami Tersangka Fathor Rachman

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri mengatakan, penyidik dijadwalkan memeriksa seorang saksi untuk tersangka Fathor Rachman (FR). Fathor sebelumnya diketahui merupakan mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya (Persero) periode 2011 hingga 2013.

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, saksi tersebut diperiksa terkait kasus dugaan korupsi terkait pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif sejumlah proyek yang sebelumnya dikerjakan Waskita Karya.

“Yang bersangkutan (Sri Maryati/ibu rumah tangga) akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka FR (Fathor Rachman),” kata Ali Fikri kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/10/2020).

Hingga saat ini, penyidik KPK telah menetapkan 5 orang sebagai tersangka dalam kasus itu. Kelima (5) tersangka tersebut adalah Yuly Ariandi Siregar (YAS), mantan Kepala Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya Desi Arryani (DSA) dan mantan Kepala Bagian Pengendalian pada Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya Jarot Subana (JS).

Baca Juga:  KPK Jelaskan Kontruksi Kasus Suap Wali Kota Tasikmalaya

Kemudian tersangka mantan Kepala Proyek dan Kepala Bagian Pengendalian pada Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya Fakih Usman (FU) dan mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya periode 2011-2013 Fathor Rachman (FR).

Tersangka tersebut diduga secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi terkait pelaksanaan pekerjaan subkontraktor yang diduga fiktif pada pada proyek-proyek yang dikerjakan oleh Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya selama 2009 sampai dengan 2015.

Sepanjang periode 2009 hingga 2015, setidaknya ada 41 kontrak pekerjaan subkontraktor fiktif pada 14 proyek yang dikerjakan oleh Divisi III/Sipil/II PT Waskita Karya.

Sementara itu, perusahaan subkontraktor yang digunakan untuk melakukan pekerjaan fiktif tersebut adalah PT Safa Sejahtera Abadi, CV Dwiyasa Tri Mandiri, PT MER Engineering, dan PT Aryana Sejahtera.

Baca Juga:  Kasus Jembatan Waterfront City, KPK Kembali Periksa 2 Pegawai PT Wijaya Karya

Sedangkan berdasarkan laporan dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kasus subkontraktor fiktif berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara sekitar Rp 202 miliar.

Atas perbuatannya, seluruh tersangka tersebut disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Tags: , ,