Kurang Diminati di Indonesia, Musik Gamelan Justru Jadi Terapi Musik di Eropa

Laura Sekarputri, terapis musik asal Indonesia yang saat ini aktif di Amerika Serikat (AS) ini piawai dalam memainkan beragam instrumen musik, mulai dari gitar, piano dan instrumen-instrumen modern lainnya. Namun Laura juga piawai bermain musik gamelan.

Dalam wawacara ekslusifnya dengan Soloraya.id melalui panggilan Whatsapp, Laura mengaku bahwa dirinya belajar gamelan saat dirinya masih SMA yang dia tempuh di Singapura. Setelah dirinya pindah ke AS untuk kuliah di sana, dirinya bertemu dengan beberapa tim pemain gamelan dari beberapa universitas besar, seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan juga dari Harvard University.

Laura juga pernah memimpin sebuah orchestra yang menampilkan musik gamelan yang menarasemen lagu daerah dari Bali, “Janger” di sebuah ajang International Folks Festival. Dirinya mengaku bahwa apresiasi musik gamelan di AS justru lebih dihargai karena musik gamelan dianggap sangat unik dan eksotis sehingga banyak yang mempelajarinya.

“Aku sebagai orang Indonesia sangat bangga!” ungkap Laura lewat panggilan Whatsapp, Selasa (03/11/2020).

Laura juga menambahkan bahwa meskipun belum banyak riset yang mendukung musik gamelan sebagai terapi, namun ada riset yang menunjukan bahwa ada negara di Eropa menggunakan musik gamelan sebagai musik terapi secara kelompok untuk para narapidana, namun metode ini diakui belum banyak dilakukan karena gamelan sendiri adalah instrumen yang berat. Namun jika metode terapi ini dibutuhkan dan tidak memungkinkan menghadirkan instrumen gamelan, bisa menggunakan elemen-elemen dari musik gamelan itu sendiri dan dikemas secara digital.

Baca Juga:  Sebulan Tambah 1.000 Kasus Covid-19, Wali Kota Solo Minta Warganya Tak Mudik

Sebagai seorang terapis musik yang sudah aktif sejak 2016, Laura memiliki banyak pengalaman menjalankan profesinya. Bahkan saat dirinya menempuh studi terapi musik di Berklee College of Music, dirinya sudah aktif mempraktekan metode terapi musiknya di beberapa rumah sakit di AS. Ternyata, metode terapi musik ini sudah menjadi salah satu metode pengobatan yang dipakai di sejumlah rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa di kota-kota besar di AS, seperti Los Angeles, Boston, New York dan kota-kota besar lainnya.

Dirinya juga pernah memberikan seminar di Indonesia untuk menjelaskan tentang terapi musik itu sendiri dan rupanya banyak yang merespon baik, khususnya dari para tenaga medis. Namun karena belum begitu umum, metode terapi musik di Indonesia hanya ada 8 layanan yang aktif, dan hampirnya semuanya ada di area Jakarta.

Baca Juga:  Tingkat Kunjungan Mal Fluktuatif, Pengelola Berharap Pemkot Bisa Tinjau Ulang SE

Karena begitu kompleksnya bidang musik terapi ini, tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang bersekolah Barklee College of Music mengambil bidang ini. Dikarenakan bidang ini sangat tersegmentasi, perpaduan antara ilmu seni dan kesehatan. Apalagi jam praktikum serta magang yang diambil juga banyak sehingga sangat memakan waktu.

Menjadi terapis musik mengharuskan adanya asitensi dari seorang terapis dengan klien atau pasiennya. Namun karena masa pandemi ini, banyak pekerjaannya yang ditunda karena klien atau pasiennya yang kebanyakan adalah lansia dan merupakan kategori kelompok rentan tertular virus. Sementara ini dirinya hanya mengirimkan sample lagu-lagu yang bisa didengarkan.

Selama pandemi ini, dirinya bersama teman-teman Barklee College of Music dari Indonesia membuat video cover yang dia unggah 16 Juni 2020 lalu, menggabungkan dua lagu, “Somewhere Over the Rainbow” dan “Laskar Pelangi” yang berhasil menarik hampir 20 ribu penonton.

Tags: , ,