Makna Malam Selikuran, Tradisi Keraton Surakarta Menyambut Lailatul Qadar

Makna Malam Selikuran, Tradisi Keraton Surakarta Menyambut Lailatul Qadar

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar tradisi Malam Selikuran di bulan Ramadan, pada hari Minggu (2/5/2021) malam kemarin.

Dalam tradisi tersebut diadakan kirab tumpeng dan arak-arakan abdi dalam dengan membawa lampu lentera yang dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju kompleks Masjid Agung Solo.

Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo selaku Pengageng Perintah Keraton Kasunanan Surakarta menyampaikan bahwa tradisi malam selikuran memiliki makna kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Dipokusumo mengatakan, “Tumpeng sewu, melambangkan malam seribu bulan 10 hari sebelum lebaran dan lampu ting sebagai pencahayaan”.

“Kalau dulu sampai ke Stadion Sriwedari, lalu belakangan ini diperpendek di Masjid Agung saja,” tuturnya.

Arak-arakan tersebut juga digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan mengingat masih mewabahnya pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Ekspedisi Gunung Chimborazo Malimpa UMS

Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan acara tersebut sudah mengantongi izin.

Izin diberikan karena pelaksanaannya tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Sejak dulu sudah ada izin induk untuk Keraton Solo, jadi kalau ada kegiatan-kegiatan lainya sifatnya pemberitahuan”, katanya.

Sementara itu, dalam tulisannya, Tradisi Malam Selikuran Kraton Kasunanan Surakarta, Syamsul Bakri dan Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih menerangkan bahwa malam selikuran dikembangkan oleh Sultan Agung. Akan tetapi, ritual ini sempat mengalami pasang surut.

Salah satu yang khas dari tradisi malam selikuran Keraton Surakarta ialah adanya lampu ting. Lampu ini merupakan simbol dari obor yang dibawa para sahabat tatkala menjemput Nabi Muhammad SAW yang turun dari Jabal Nur seusai menerima wahyu.

Baca Juga:  Nikmati Acara Solo Batik Music Festival 2022 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo 1-2 Oktober 2022

Dalam malam selikuran, para abdi dalem juga membawa tumpeng berjumlah seribu.

Syamsul dan Siti menuliskan, jumlah tersebut melambangkan pahala setara seribu bulan, yakni pahala yang dijanjikan Tuhan kepada hamba-Nya yang ikhlas beribadah pada malam Lailatul Qadar.

Puncak dari malam selikuran adalah pembagian nasi tumpeng. Selepas pemuka agama mengucap doa, nasi tersebut dibagikan kepada para abdi dalem dan masyarakat.

Tags: , ,