Melihat Cara Kerja Skema Ponzi yang Jadi Jebakan Investasi Bodong

Melihat Cara Kerja Skema Ponzi yang Jadi Jebakan Investasi Bodong

Tawaran investasi dengan imbal hasil yang besar dalam waktu singkat, seringkali membuat orang gelap mata dan akhirnya menyesal. Tidak main-main, kerugian dari manisnya tawaran investasi bodong ini bisa mencapai nilai ratusan juta rupiah.

Satgas Waspada Investasi mengungkapkan alasan terkait masih ada banyaknya orang yang terjebak investasi bodong, termasuk yang menggunakan skema ponzi.

Seperti yang diketahui, setidaknya sudah ada 3 perusahaan di Indonesia yang tercatat menggunakan metode ini.

Tongam L Tobing selaku Ketua Satgas Waspada Investasi menyampaikan bahwa terdapat dua hal utama yang menyebabkan orang Indonesia kerap terperangkap dalam investasi yang menggunakan skema ponzi.

Pada hari Kamis (28/1/2021) kemarin, Tongam menuturkan, “Pertama, sebagian masyarakat sangat mudah tergiur dengan iming-iming imbal hasil tinggi”.

Yang kedua yakni rendahnya tingkat literasi atau pengetahuan masyarakat terhadap skema investasi dan keuangan.

Oleh karenanya, Satgas Waspada Investasi bersama pemerintah akan terus berusaha meningkatkan literasi masyarakat, khususnya mengenai mengenal produk investasi dan keuangan.

Tidak hanya itu, sosialisasi mengenai daftar perusahaan investasi bodong atau ilegal pun akan diintensifkan.

Hal tersebut bertujuan, agar masyarakat bisa mengambil keputusannya dengan tepat.

Tongam menambahkan, “Sebaiknya masyarakat lebih teliti untuk ikut apabila ada kegiatan yang menghimpun dana dan memberikan keuntungan tidak wajar”.

Baca Juga:  Komandan FUI Medan Jadi Tersangka Pembubaran Jaran Kepang

Mengutip dari detikcom pada hari Kamis (28/1/2021) kemarin, ada sejumlah investasi bodong yang menggunakan skema ponzi di tanah air.

1. MeMiles

Kasus MeMiles sempat banyak diperbincangkan selama setahun terakhir. MeMiles menjanjikan satu unit mobil Lexus RX 300 seharga Rp 1,3 miliar dengan mudah.

Investor dijanjikan bisa mendapatkan mobil tersebut hanya dengan top up Rp 30 juta. Selain Lexus, MeMiles juga memberikan bonus berupa Lamborghini dengan top up Rp 100 juta.

Sebelumnya, MeMiles mengklaim sebagai aplikasi periklanan. Aktivitas membeli slot iklan dalam aplikasi MeMiles itu oleh para member disebut dengan istilah top up atau sederhananya menyetor dana.

Akumulasi setoran para member ini secara keseluruhan disebut sebagai omzet nasional. Metode ini dinilai sebagai skema Ponzi, karena membayarkan keuntungan untuk investor dari uang sendiri atau dibayarkan oleh investor berikutnya.

Pendiri Memiles Kamal Tarachand sempat meringkuk di Polda Jatim bersama ketiga rekannya, meskipun kini sudah dibebaskan.

2. First Travel

Satgas Waspada Investasi menghentikan kegiatan First Travel karena diduga merugikan masyarakat dengan sistem ponzi. Selanjutnya Kementerian Agama mencabut izin operasi perusahaan tersebut.

Baca Juga:  Negara Ambil Alih Taman Mini Indonesia Indah

First Travel memberangkatkan banyak jemaah pertamanya dengan uang jamaah yang mendaftar setelahnya. Kasus ini bergulir sejak 2017.

Dalam masa tertentu, jemaah First Travel berkurang. Alhasil uang jemaah baru tak cukup untuk memberangkatkan jemaah sebelumnya.

3. Q-Net

Q-Net terindikasi melakukan penipuan berkedok investasi dengan menjalankan skema multilevel marketing. Kasus ini ramai pada medio 2019 yang lalu.

Modus Q-Net adalah dengan merekrut banyak anggota baru. Para anggota dijanjikan setiap kelipatan tiga masing-masing kaki kiri dan kanan pada skema MLM-nya akan mendapatkan US$ 250.

Tetapi, Satgas Waspada Investasi sudah menerbitkan siaran pers yang menyebutkan entitas investasi ilegal di Indonesia, salah satunya adalah PT Amoeba Internasional yang berafiliasi dengan PT Q-Net.

Seperti yang dituangkan dalam laman Investopedia (17/7/2019), investasi dengan skema ponzi pada dasarnya murni perputaran uang dari anggotanya sendiri.

Skema ponzi mengandalkan aliran investasi baru yang konstan untuk terus memberikan pengembalian kepada investor yang lebih dulu. Apabila aliran habis, skema tersebut akan berantakan.

Tags: , ,