Mengenal Sosok Dibalik Bangunan Revitalisasi di Kota Bengawan

Menjadi desainer interior  tentunya harus paham betul mengenai segi teknis bagaimana jika konsep rancangan mereka diterapkan. Mulai dari sirklulasi udara, pencahayaan bahkan warna cat hingga lampu  harus diperhitungkan.

Hal inilah yang sering dikerjakan oleh dua bersaudara asal Solo yang berkecimpung di dunia desain interior. Savitri, 32 dan adiknya, Verdiyan Wirangga, 28, mereka berdua sama-sama mengambil studi terakit di Amerika Serikat. Savitri mengambil Diploma Interior Design di Art Institute of Seattle sedangkan Verdiyan mengambil studi Interior Design di Art Institute of Portland.

Savitri sudah menjalani profesinya sebagai  desainer interior selama 7 tahun dan adiknya, Verdiyan baru aktif sejak 2017 sejak dirinya kembali ke Indonesia. Sebagai desainer interior, mereka mengaku proses untuk merancang sebuah konsep tergantung pada kondisi lapangan. Jika mereka diminta untuk mengkonsep bangunan yang sudah ada itu lebih mudah, namun tak jarang mereka juga harus mengkonsep tata ruang yang masih dalam keadaan tanah kosong

“Misal struktur rumah/bangunan sudah jadi, itu mungkin lebih cepat tapi kadang juga sering dikontak sama pemilik proyek yang kondisinya masih tanah kosong, kalau seperti itu kami sudah bisa kolaborasi dengan arsiteknya dari awal.” Jelas Savitri lewat  wawancara eksklusifnya dengan Soloraya.id di Keris Café & Kitchen, Senin (12/10/2020)

Meskipun mereka sudah dipercaya untuk menuangkan konsep-konsep atau ide-ide sebagai seorang  desainer interior handal, mereka juga masih menampung ide-ide dari pemilik projek namun mereka mengaku bahwa tidak semua permintaan klien bisa direalisasikan karena hal-hal teknis. Tak jarang juga, Savitri dan Verdiyan juga menghadapi klien-klien yang keras mengharapkan idenya bisa direalisasi, dalam hal ini Savitri dan Verdiyan tetap menuruti kemauan klien dengan memberikan perjanjian tertulis  (disclaimer)

Salah satu projek yang dikerjakan adalah Keris Café & Kitchen yang merupakan satu kesatuan dari Rumah Heritage Batik Keris, sebuah bangunan cagar budaya yang direvitalisasi dan diresmikan pada 2 Oktober 2020 silam oleh Wali Kota Surakarta. Projek ini dikerjakan sepenuhnya oleh Verdiyan untuk desain interiornya.

Verdiyan menejelaskan bahwa sebagai orang seni, dirinya tetap menghargai bangunan cagar budaya. Saat mengerjakan proyek Keris Café & Kitchen ini,  dirinya tidak mengubah secara masif bangunan, hanya menambahi struktur saja supaya kuat karena yang namanya bangunan tua pasti ada struktur yang sudah rapuh dan tidak bisa diperbaiki lagi sehingga mau tidak mau harus ada struktur baru yang dibuat.

“Sebanyak mungkinpun saya tidak merubah, kecuali untuk bagian-bagian yang tidak bisa diselamatkan. Contoh untuk lantai tidak diganti sama sekali, saya pakai vinyl dan bawahnya masih asli, dan di ruang  utama juga masih sama, tidak diganti. Jadi kalau nanti mau dibalikin seperti di awal, tinggal copot aja [Vinyl-nya].” Jelas Verdiyan.

Penambahan yang dilakukan di Keris Café & Kitchen ada pada lantai 2 karena dirinya sudah berkonsultasi dengan pemilik bahwa untuk desain kafe kalau hanya satu lantai saja tidak cukup sehingga harus ditambah bangunan baru. Namun dirinya berusaha untuk tidak mengubah bangunan supaya nilai historisnya tetap berasa

Savitri sendiri sebelumnya juga sudah pernah mengerjakan proyek cagar budaya, yaitu bangunan tua yang sekarang menjadi Java  Terrace yang berada di kawasan Purwosari. Proyek  ini dia kerjakan bersama adiknya, Verdiyan. Dirinya tidak merubah sama sekali, hanya mempercantik. Diakui Savitri saat mengerjakan proyek Java terrace itu pertama kali,  suasana magisnya sangat kuat dan sangat gelap serta pengap saat dirinya memasuki ruangan.

Baca Juga:  PDIP Pecat Cawabup Klaten Harjanta yang Maju Pilkada 2020 Lewat Partai Lain

Projek-projek lainnya yang sudah dikerjakan  antara lain Keris Café di Jl.  Yos Sudarso Solo, Keris Café Batik Keris Cemani, dan K-Kitchen di Bandara Adi Sumarmo Boyolali, Keris Café Semarang dan Bali. Kemudian juga Kafe Lokal Folk di Magelang yang juga merupakan residensial kuno jaman kolonial.

Selama pandemi, mereka masih mengerjakan proyek-proyek, salah satunya proyek residensial.  Bahkan projeknya yang di Magelang, Lokal Folk, diminta untuk diperpanjang karena banyaknya pengunjung. Namun tetap ada tantangan, yaitu pada penyesuaian anggaran karena masa pandemi tentunya perekonomian sedang lesu dan orang lebih cenderung untuk meminimalkan anggaran pengeluaran

Tapi Verdiyan yakin bahwa bisnis desain interior tetap selalu ada karena pada dasarnya orang menghabiskan waktunya berada di dalam ruangan, apalagi sekarang banyak yang menerapkan Work From Home atau bekerja dari rumah. Savitri yang juga merupakan lulusan Univeristy of Washington jurusan Psikologi, saat ini sudah beralih profesi  sebagai UX Designer di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta. Bagi Savitri, menjadi desainer interior dan UX Desginer ada keterkaitan, yaitu sama-sama memberikan experience, hanya berbeda lingkup saja.

Mereka berdua bisa dikatakan penerus dari sang ayah yang juga seorang arsitek selama 35 tahun. Mereka mengembangkan bisnis keluarga dengan memulai promosi melalui media sosial Instagram @studio308, sehingga projek yang diterima bisa lebih luas

Tags: , ,