Nekat Berunjuk Rasa di Tengah Pandemi, Sejumlah Mahasiswa Solo Ditangkap

Aksi massa dilakukan oleh sejumlah mahasiswa pada Kamis (24/9) sore kemarin. Polresta solo berhasil membubarkan aksi yang dinilai tak berizin tersebut serta menangkap sebagian peserta aksi ke Mapolresta Solo lantaran ditemukan senjata tajam dan palu

“Sebelum menggelar aksi itu, kami tidak mengeluarkan izin. Namun, mereka tetap ngeyel,” terang Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak saat dikonfirmasi, Jumat (25/9) pagi.

Dikatakan, pihaknya tidak melarang aksi mengumumkan pendapat di muka umum. Namun, saat pandemi ini lebih baik bisa melalui daring atau online. Pasalnya, kerumunan massa rentan penyebaran Covid-19.

“Ditolak, dan dilarang melakukan kerumunan massa pandemik. Termasuk unjuk rasa (unras) juga tidak diperbolehkan yang menimbulkan massa,” jelasnya.

Meski dilakukan penolakan izin, kata Ade, massa tetap melaksanakan aksi pada Kamis (24/9). Mereka melakukan long march dari Manahan sampai ke DPRD Solo.

Sebelum sampai di DPRD tepatnya di depan SMA Regina Pacis, mereka diperingatkan aparat kepolisian untuk membubarkan diri. Sebab, tidak ada izin.

“Mereka malah bilang ‘serbu’ pada petugas. Kami lakukan tindakan tegas karena aksi yang mereka lakukan itu tidak berizin,” kata Ade.

Setelah itu, mereka diamankan dan dibawa ke Mapolresta Solo. Mereka diperiksa dan dimintai keterangan.

“Kami kenakan wajib lapor, namun beberapa diantaranya masih kami dalami,” katanya.

Sementara itu, dari pihak mahasiswa, Korlap Aksi Solo Raya Bergerak, Edho Johan Pratama menyayangkan sikap arogan yang dilakukan aparat kepolisian tersebut.

Sebab, pembubaran dan penangkapan paksa itu dilakukan sebelum aksi digelar.

View this post on Instagram

Aksi Solo Raya Bergerak mengadakan aksi peringatan hari Tani Nasional, mereka rencananya akan bergerak ke stadion Manahan untuk melakukan aksi tadi siang pukul 14.15. Namun Polresta Surakarta dengan sigap menghadang aksi tidak berizin ini dan menangkap beberapa peserta aksi di depan Ursulin Mereka diangkut menggunakan mobil polisi dan saat ini sedang ditahan di Polres Surakarta. Polisi sempat mengepung massa aksi lainnya yg sedang berada di Ursulin (dekat Manahan). Aparat kepolisian mengeluarkan beberapa kali tembakan peringatan, massa aksi diminta utk tiarap. Berikut beberapa video yang sempat tertangkap netizen ketika mengadakan aksi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . #soloaman #solotangguh #infosolo #kotasolo #solonyaman #kapolrestasurakarta #infocegatansolo #aksimahasiswa #soloberlawan #kabarsolo #surakarta #beritasolo #aliansimahasiswa #haritani #haritaninasional

A post shared by SOLORAYA.ID (@soloraya.co.id) on

“Kita baru berkumpul untuk menunggu peserta lain dan mobil komando. Tapi sudah dibubarkan dan sebagian ditangkap, ” ujarnya disela menjalani pemeriksaan di Polresta Surakarta.

Menurutnya, tudingan aparat kepolisian yang menyebut aksi tersebut tidak ada izin tidak benar.

Sebab, pihaknya mengaku sudah melayangkan surat pemberitahuan itu kepada polisi sejak Rabu (23/9) kemarin.

Saat menyampaikan surat pemberitahuan itu, lanjut dia, tidak ada penjelasan apakah dilarang atau tidak oleh polisi.

Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa aksi tersebut sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Karena pengalaman sebelumnya saat melakukan aksi serupa juga demikian dan tidak dipersoalkan.

“Kita melakukan aksi tidak hanya kali ini saja. Sebelumnya kita juga melakukan hal serupa, dengan menyampaikan surat pemberitahuan dan tidak dipersoalkan. Makanya kita juga bingung kenapa bisa dibilang tidak berizin. Kalau memang tidak diizinkan mestinya disampaikan saat kita memberikan surat pemberitahuan itu dong,” jelasnya.

Dalam aksi tersebut, Edho juga memastikan tidak ada rencana membuat kerusuhan. Karena titik tekannya adalah menyampaikan pendapat.

Terkait dengan temuan adanya palu dan cutter dari salah satu peserta aksi, kata dia, hal itu di luar rencana aksi.

“Kita tidak paham kenapa barang itu ada. Karena sejak awal, rencana aksi yang kita lakukan hanya melakukan long march dan mimbar bebas di depan kantor DPRD Surakarta. Dan sebenarnya cutter itu juga ditemukan di jok motor milik salah satu peserta yang sedang diparkir,” jelasnya.

Sehingga, tudingan aksi akan melakukan kerusuhan apalagi disusupi kelompok anarko, menurutnya tidak benar.

“Memang kemarin ada kelompok anarko yang mau gabung dalam aksi. Tapi langsung kita tolak. Karena kita tidak menginginkan aksi unjuk rasa yang akan digelar secara damai ternodai dengan aksi kerusuhan,” ungkapnya.

Meski kondisi saat ini masih pandemi Corona, dalam setingan aksi tersebut, dijelaskan Edho, juga sudah diupayakan untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai pakai masker dan jaga jarak setiap peserta.

“Jadi kalau dianggap melakukan kerumunan massa dan tidak sesuai protokol kesehatan, sekali lagi itu hanya tudingan tidak berdasar dan tidak ada bukti. Apalagi kita belum mulai sudah dibubarkan polisi,” tandasnya.

Adapun aksi unjuk rasa tersebut, dijelaskan Edho, diikuti sekitar 150 orang. Terdiri dari organisasi mahasiswa dan aliansi pelajar.

Adapun tuntutan aksinya antara lain menolak omnibus law, laksanakan reformasi agraria, sahkan RUU PKS, tolak militerisme, tolak aparat TNI/Polri menduduki jabatan sipil dan lainnya.

Baca Juga:  Upacara Pembukaan Pospenas IX 2022 Solo di Stadion Manahan Berlangsung Meriah
Tags: , ,