Netizen Diciduk Polisi Karena Komentari Jabatan Gibran, Ini Klarifikasi Divisi Humas Polri

Netizen Diciduk Polisi Karena Komentari Jabatan Gibran, Ini Klarifikasi Divisi Humas Polri

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Polresta Solo memanggil warga Slawi, Tegal, berinsial AM yang komentari Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Polisi menilai komentar AM pada unggahan akun Instagram @garudaevolution yang berisi informasi tentang Gibran, pada hari Sabtu (13/3/2021), tidak sesuai fakta.

Pada unggahan mengenai keinginian Gibran agar semifinal dan final sepak bola Piala Menpora itu, AM menuliskan komentar, “Tau apa dia tentang sepakbola, taunya cmn dikasih jabatan saja’.

Apa yang disampaikan oleh AM tersebut dinilai mengandung hoaks.

Kombes Ade Safri Simanjuntak selaku Kapolresta Solo menyampaikan bahwa semua konten yang berpotensi melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) akan dimintakan konfirmasi oleh tim khusus virtual police.

Ade mengatakan, “Tim sebelumnya sudah meminta AM agar menghapusnya, tetapi yang bersangkutan tidak juga mengindahkan”.

Ade menambahkan, tim juga sudah menjelaskan bahwa postingan AM tersebut bermuatan hoaks.

“Karena pemilihan kepala daerah itu sudah diatur sesuai dengan regulasi”, jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Divisi Humas Polri memberikan klarifikasi.

Divisi Humas Polri mengklarifikasi informasi yang menyebut bahwa remaja bernama AM ditangkap karena komentari Gibran di media sosial.

Polri membantah menangkap mahasiswa berinisial AM tersebut.

Menurut Polri, AM sendiri yang mendatangi Polresta Solo untuk menyampaikan permintaan maaf atas komentarnya.

Melansir dari detikcom pada hari Rabu (17/3/2021) Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, “Jadi yang bersangkutan (AM) datang sendiri. Itu datang ke Polres untuk meminta maaf”.

Menurutnya, tidak ada unsur paksaan untuk AM dalam hal ini.

“Saya jelaskan ya, tidak ada yang diamankan di Polresta Solo”, tegasnya.

Ramadhan menyampaikan bahwa AM berinisiatif sendiri datang ke Polresta Solo untuk menyampaikan permintaan maaf.

Bahkan surat permohonan maaf juga dibuat sendiri atas inisiatif AM.

“Jadi yang bersangkutan (AM) itu datang ke Polres untuk meminta maaf dan di Polres membuat surat pernyataan permohonan maaf dan kasus selesai. Jadi tidak benar kalau yang bersangkutan diamankan,” terangnya.

Ramadhan menambahkan bahwa penerapan virtual police dalam hal ini sekadar mengingatkan.

“Jadi yang dilakukan virtual police di sana hanya mengingatkan kepada akun tersebut”, jelasnya.

Tags: , ,