Nilai Ekonomi Goa Pindul Mencapai Rp 26 M

Nilai Ekonomi Goa Pindul Mencapai Rp 26 M

Goa Pindul merupakan salah satu obyek wisata yang berada di kabupaten Gunung Kidul. Obyek wisata ini telah dibuka sejak akhir tahun 2010 lalu. Awalnya tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan goa tersebut, sebagian masyarakat beranggapan goa ini sakral dan akses menuju goa minim penerangan.

Setelah ada beberapa mahasiswa UGM yang melakukan penelitian di goa tersebut secara intensif, mereka menyimpulkan bahwa goa tersebut dapat dijadikan obyek wisata, hingga akhirnya Goa Pindul diresmikan menjadi obyek wisata pada Oktober 2010. Pengelolaan wisata Goa Pindul dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) daerah setempat.

Destinasi ini kian hari menjadi lebih terawat dan cantik sehingga menjadi destinasi primadona yang cocok dikunjungi masyarakat yang ingin berwisata dengan suasana alam.

Jumlah pengunjung Goa Pindul semakin meningkat dari waktu ke waktu. Keberadaannya semakin dikenal masyarakat luas. Atraksi wisata yang terdapat di Goa Pindul menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung karena atraksi yang disajikan memiliki keunikan dimana pengunjung dapat menikmati sensasi alam dengan cara yang berbeda.

Goa Pindul merupakan goa dengan lorong sepanjang 300 meter yang dialiri aliran sungai bawah tanah dengan kedalaman air 2-3 meter sehingga atraksi wisata yang disajikan di Goa Pindul adalah susur goa menggunakan ban atau lebih dikenal dengan cave tubing. Pengunjung dapat menikmati pemandangan tebing-tebing sekitar goa, stalagtit, dan stalagmit di dalam goa dengan menyusuri menggunakan ban (cave tubing).

Aktivitas susur goa yang terdapat di Goa Pindul menggunakan peralatan yang memenuhi konsep circular economy. Konsep circular economy merupakan konsep untuk mewujudkan ekonomi hijau dengan pendekatan 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Repair), sehingga yang dihasilkan dari beragam aktivitas adalah tanpa limbah (zero waste).

Konsep tersebut merupakan konsep yang saat ini digaungkan oleh pemerhati lingkungan, agar ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs).

Atraksi wisata yang disajikan di Goa Pindul dengan menyusuri goa tersebut memanfaatkan ban bekas truk kontainer yang tidak terpakai. Ban bekas merupakan limbah anorganik yang tidak dapat terurai sehingga limbah ini memerlukan penanganan khusus.

Sebuah penelitian yang dilakukan mahasiswa teknik mesin Universitas Hasanudin pada tahun 2016 menunjukkan bahwa untuk memproses limbah ban bekas diperlukan metode pirolisis yakni metode yang digunakan untuk proses penguraian limbah melalui pemanasan tanpa atau sedikit melibatkan oksigen. Proses ini membutuhkan pemanasan dengan suhu mencapai 750° yang tentunya membutuhkan biaya besar karena memerlukan mesin reaktor pirolisis.

Melalui pemanfaatan ban bekas dalam atraksi wisata susur Goa Pindul, ban bekas yang semula merupakan limbah yang tidak dapat diurai kemudian dilakukan Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Repair sehingga dapat digunakan kembali untuk tujuan yang berbeda yakni atraksi wisata dan menghasilkan nilai ekonomi.

Satu ban bekas yang sudah melalui proses 5R tadi dapat digunakan oleh pengunjung berulang kali dan masa pemakaian ban tersebut juga tergolong tidak sebentar, sehingga nilai ekonomi dari ban tersebut besar.

Semakin banyak pengunjung destinasi wisata tersebut maka pemanfaatan ban bekas semakin banyak artinya limbah ban bekas semakin berkurang. Hal ini dapat mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh limbah ban bekas.

Jumlah pengunjung Goa Pindul bertambah dari tahun ke tahun, bahkan hingga membludak dan pengelola membatasi jumlah pengunjung per harinya untuk menjaga ekosistem. Banyaknya jumlah pengunjung ini menujukkan bahwa destinasi tersebut memiliki daya tarik tersendiri hingga mereka memilih untuk mengisi liburan ataupun melepas penat dengan berwisata ditempat tersebut.

Jumlah pengunjung sebelum pandemi Covid 19 mencapai tiga ratusan orang per harinya bahkan lebih, sedangkan jumlah pengunjung selama pandemi Covid 19 dibatasi menjadi sekitar 200 orang per hari.

Dari sini dapat dilihat bahwa nilai ekonomi destinasi wisata tersebut sangatlah besar. Untuk menghitung nilai ekonomi sebuah obyek dapat dilakukan dengan menggunakan metode Travel Cost Method (TCM). Metode TCM ini merupakan metode yang digunakan untuk menilai sumber daya alam seperti obyek wisata yang tidak bisa dikuantitatifkan, sehingga penilaian nilai ekonomi melalui kesediaan membayar pengunjung.

Nilai kesediaan membayar dari pengunjung obyek wisata Goa Pindul dapat dilihat dari besaran biaya perjalanan yang mereka lakukan untuk menuju obyek wisata Goa Pindul.

Hasil penelitian yang dilakukan Putri & Juwana yang merupakan mahasiswa teknik lingkungan Institut Teknologi Nasional menunjukkan bahwa pengunjung Goa Pindul mencapai 130.520 orang per tahun, nilai kesediaan membayar (Willingnes To Pay) pengunjung untuk datang ke tempat wisata tersebut rata-rata sebesar Rp 199.781,-/orang, sehingga nilai ekonomi per tahun dari Goa Pindul tersebut didapat dari nilai kesediaan membayar per orang dikalikan jumlah pengunjung per tahun dan hasilnya sebesar Rp 26.075.382.185,-.

Nilai valuasi ekonomi Goa Pindul tersebut tergolong fantastis, sehingga asset berupa alam tersebut harus dijaga kelestariannya agar nilai ekonomi tersebut terus berkembang. Dari nilai tersebut juga terdapat surplus konsumen di dalamnya. Surplus konsumen merupakan selisih dari nilai kesediaan membayar dikurangi jumlah uang sebenarnya yang dibayarkan pengunjung.

Berdasarkan penelitian tersebut dihasilkan surplus konsumen per orang sebesar Rp 79.677,- atau Rp 10.399.524.104.-/tahun. Dengan mengetahui besaran nilai ekonomi maupun surplus konsumen dari Goa Pindul tersebut dapat dijadikan referensi bagi pengelola untuk mengembangkan wisata Goa Pindul menetapkan tarif maupun memperbaiki dan menjaga alam di Goa Pindul agar tetap lestari.

Ditulis oleh:
Reni Eka Septiani: Mahasiswa S2 MESP UNS
Dr. Evi Gravitiani, S.E, M. Si: Dosen Ekonomi SDA dan Lingkungan

Tags: , ,