Oknum PNS Tipu 3.445 Orang dengan Modus Investasi Aset Kripto

Oknum PNS Tipu 3.445 Orang dengan Modus Investasi Aset Kripto

Kasus penipuan dan penggelapan dengan modus investasi bodong kembali terjadi. Kali ini pelakunya merupakan seorang oknum pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau.

Oknum PNS tersebut, melakukan aksi kejahatan dengan modus investasi bodong invesasi aset kripto.

Pelaku IH berhasil menipu dan menggelapkan uang korban sebanyak 3.000 orang lebih, dengan total kerugian Rp 60 miliar.

AKBP Efrizal selaku Kapolres Inhu menjelaskan bahwa modus pelaku dalam menjalankan aksinya adalah dengan cara mencari dan mengumpulkan uang dari warga dengan modus perdagangan produk.

Efrizal menjelaskan, “Itu seolah-olah merupakan aset kripto, berupa koin digital yang bernama EDRG dalam platform EDC Blockchain. Pelaku menjanjikan korban akan diberikan keuntungan sebesar 0,5 persen dalam satu hari atau keuntungan 15 persen dalam satu bulan”.

Baca Juga:  Akhir Pelarian Singkat Buron Teroris Nouval Farisi

Menurutnya, salah satu korban atau member yang melaporkan kasus penipuan ini mengalami kerugian Rp 1,1 miliar.

Dalam mempromosikan koin EDRG ini, pelaku mengatakan kepada korbannya jika koin EDR yang diciptakannya telah mendapat pengakuan dari negara.

Efrizal menambahkan, “Tapi, kenyataannya produk EDRG yang buat pelaku IH bukanlah sebuah koin digital. Ini lebih pasnya adalah token yang merupakan produk turunan dari koin digital induk yang bernama EDC”.’

Kapolres menyampaikan, bahwa meski EDRG ini sebuah token, produk tersebut tidak serta merta bisa dianggap aset digital.

Karena aset digital kripto harus dengan berbasis distributed ledger technology.

“Proses penipuan dalam dunia kripto sering ditemukan beberapa hal. Seperti, dimungkinkan sebuah produk itu dibuat seolah-olah aset kripto, tetapi bukanlah dengan tujuan penipuan. Kemudian, juga ada aset kripto yang sengaja dibuat dimana sistimnya untuk melakukan fraud atau scaming atau penipuan,” jelas Kapolres.

Baca Juga:  Polri Duga Kebakaran Balongan Dipicu Kelalaian

Adapun barang bukti yang disita dari pelaku IH, sebut dia, berupa bukti transfer uang ke rekening bank atas nama IH, kuitansi pembelian koin EDRG, profil akun EDRG milik pelapor, rekening koran 2 tahun terakhir milik IH, 3 unit komputer, 1 mesin penghitung uang, 2 buah AC, data penjualan koin EDRG dan lainnya.

Pelaku menggunakan badan usaha bernama PT Indragiri Digital Aset Indonesia, yang didirikan sejak Januari 2019 hingga pertengahan 2020 lalu.

IH menjalankan bisnisnya dengan skema ponzi bersama sejumlah kawan-kawannya.

Jumlah orang yang sudah bergabung dalam komunitas tersebut tercatat ada sebanyak 3.445 akun atau member.

Tags: , ,