Omah Lowo, Dipandang Sebelah Mata Hingga Siap Memikat Warga

Setelah Gedung Djoeang ’45 direvitalisasi dan resmi dibuka pada Oktober 2019 silam dan menjadi salah satu meeting point di kota Bengawan, kali ini bangunan tua lainnya di Solo sedang dalam proses finalisasi proses revitalisasi. Bangunan itu adalah Omah Lowo (Rumah Kelelawar).

Melansir dari situs Surakarta.go.id, bangunan ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal seorang bangsawan dan pejabat Belanda di masa kolonial silam. Bangunan yang juga dikenal dengan nama Gedung Veteran itu terletak persis di perempatatan Solo Center Point, Jl. Slamet Riyadhi, Purwosari. Pada tahun 1945, di awal kemerdekaan, bangunan ini ditinggali oleh seorang saudagar keturunan Tionghoa bernama Djian Ho.

Era tahun 80an, bangunan ini resmi diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan saat itu dilakukan pemugaran besar-besaran namun tidak merubah bentuk asli bangunan. Sejak ditinggal oleh pemiliknya, bangunan ini menjadi tak berpenghuni selama bertahun-tahun dan mengakibatkan kerumunan kelelawar menjadikan gedung ini sebagai habitat mereka, sehingga sejak saat itu bangunan itu dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Omah Lowo.

Selama bertahun-tahun bangunan ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat Solo, dikarenakan bau yang menyengat dari kotoran kelelawar yang jatuh dan menumpuk mengganggu indera penciuman siapapun yang melewati bangunan ini, hingga akhirnya bangunan ini ditutup dengan pagar besi. Dan pada tahun 2018, timbul inisiatif untuk merevitalsiasi bangunan tua ini.

Baca Juga:  Tak Berizin dan Berkerumun, Lomba Mobile Legends di Solo Dibubarkan

Melansir dari sebuah situs, bangunan ini memiliki empat kamar tidur, dua disisi kanan dan dua lainnya disisi kiri. Masing-masing dipisahkan oleh dua buah ruangan yang luas. Kedua ruangan tersebut pernah difungsikan sebagai ruang keluarga dan ruang tamu. Tata ruang ini seperti rumah bergaya indish tropis pada umumnya. Kamar mandi justru dibangun di samping kiri luar rumah yang berbentuk persegi tanpa atap.

Pada masa kerusuhan 14 Mei 1998 silam, bangunan ini menjadi salah satu yang selamat dari amukan masa yang menuntut adanya reformasi dengan cara yang keliru. Bangunan seberangnya yang dulu adalah toko elektronik dan sekarang menjadi Solo Center Point menjadi target amukan masa. Banyak barang-barang yang dijarah dan tokonya juga dibakar.

Melansir dari berita Solopos.com pada Agustus 2018 silam, tahap pertama revitalisasi bangunan ini diawali dengan mengusir kelelawar yang bersarang di atap-atap bangunan dengan menggunakan jaring penangkap ikan yang tujuannya menghalau kelelawar masuk saat mereka selesai berburu di malam hari. Jaring dipasang di setiap akses bangunan, seperti jendela, atap dan pintu-pintu.

Baca Juga:  Covid-19 di Sragen, Dalam 2 Hari Tambah 27 Kasus

Proses revitalisasi ini dimulai sejak 6 Agustus 2018 silam dan proses ini didampingi langsung oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk memastikan bahwa proses revitalisasi tidak mengubah bentuk bangunan utama. Rencananya gedung ex-Omah Lowo ini akan menjadi tempat showroom Batik Keris.

Bangunan ini akan resmi dibuka untuk umum pada 5 Oktober 2020 dan untuk peresmiannya akan dilakukan pada hari Jumat pagi (02/10/2020), bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Acara peresmian ini akan dihadiri pula Wali Kota Surakarta,  FX Hadi Rudiyatmo, yang akan melakukan pemotongan tumpeng dan room tour.

Berdasarkan informasi yang didapat oleh Soloraya.id dari sumber terpercaya, nantinya Gedung ex- Omah Lowo yang akan berganti nama menjadi Rumah Heritage Batik Keris ini akan diakses gratis selama 1 bulan kedepan dan bulan berikutnya akan dikenakan biaya masuk yang digunakan sebagai biaya pemeliharaan dan operasional lainnya.

Tags: , ,