Omnibus Law Disahkan, Sebelas Maret Menggugat

Buntut dari disahkannya Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada 5 Oktober 2020 lalu memunculkan beragam reaksi dari kelompok masyarakat. Salah satunya adalah kelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Surakarta “Sebelas Maret” (UNS) yang menggelar orasi dengan tajuk “Sebelas Maret Menggugat”.

Dihubungi oleh Soloraya.id, Humas orasi “Sebelas Maret Menggugat” menjelaskan bahwa ini adalah bentuk mosi tidak  percaya terhadap pemerintah dan DPR RI yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Pada orasi yang digelar hari Selasa sore, (06/10/2020) di depan pintu masuk UNS kemarin, mereka menyerukan penolakan atas pengesahan Omnibus Law yang dianggap merampas dan memeras hak kaum buruh dan pekerja.

Baca Juga:  Libur Panjang, Pemkot Solo dan Pemkab Karanganyar Kerjasama Bangun Tim Monitor Tempat Wisata

Tidak itu saja, Omnibus Law juga dianggap pro investasi dan menjadikan sasaran empuk bagi para penguasa untuk menambah pundi-pundi kekuasaan mereka. Koordinator orasi ini juga memberikan poin-poin dalam orasi mereka, diantaranya;

  1. Mosi tidak percaya kepada pemerintah dan DPR RI yang berkhianat kepada rakyat dan konstitusi dengan bersikeras mengesahkan Omnibus Law Cipta Kerja di saat rakyat dilanda kesusahan besar akibat Pandemi Covid-19.
  2. Mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera membatalkan UU Omnibus Law Cipta Kerja dengan mengeluarkan PERPU.
  3. Mengecam keras kepada pemerintah dan apparat keamanan yang sering bertindak represif dan kriminalisasi kepada rakyat dalam upaya penolakan terhadap pengesahan UU Omnibus Law Cipta kerja.
  4. Mengajak segenap rakyat Indonesia yang cinta akan kemerdekaan untuk tidak pernah berhenti menyuarakan mosi tidak percaya dan melakukan perlawanan sampai RUU Omnibus Law Cipta Kerja dibatalkan.
Baca Juga:  APBD Boyolali 2021 Disusun, Bupati ; “Masih Fokus Covid-19 Tanpa Abaikan Pembangunan”

Humas orasi juga menerangkan bahwa mereka akan menggerakan masa lebih besar lagi. Diperkirakan ada 150an mahasiswa yang hadir dalam orasi ini dengan mengenakan jas almamater mereka yang dikenal dengan almamater “endog asin” (terur asin) karena warnanya mirip dengan cangkang  telur asin.

“Akan ada aksi massa yang lebih besar, aksi kemarin menjadi awalan untuk gerakan mahasiswa dan masyarakat. Untuk menempuh jalur hukum belum dipikirkan.” Jelas Humas orasi kepada Soloraya.id.

Tags: , ,