Pajak Hotel dan Restoran Turun Drastis, Dinas Pariwisata Solo Pesimis

Bisnis perhotelan dan restoran merupakan sektor pariwisata yang mendapat dampak terbesar karena karena pandemi Covid-19. Karena turunnya bisnis perhotelan dan resturan secara drastis, Pemkot Solo kehilangan sekitar 50% pendapatan pajak hotel dan restoran  selama delapan bulan terakhir.

Nilainya yang hilang mencapai miliaran rupiah yang seharusnya masuk pendapatan asli daerah (PAD). Kedua kategori pajak tersebut mayoritas dari wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo.

Kepala Dinas Pariwisata Solo, Hasta Gunawan, mengatakan dari okupansi hotel yang hanya 30%-40%, Pemkot Solo kehilangan separuhnya.

“Tahun lalu okupansi hotel itu bisa 70%-80%, ini dari turis kemudian meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE), dan berbagai agenda wisata sepanjang tahun. Sejak Maret lalu benar-benar tidak ada,” katanya, Kamis (22/10/2020).

Hasta masih berharap akhir tahun ini bisnis pariwisata, hotel, dan restoran menggeliat lagi sehingga pendapatan Pemkot Solo dari sektor pajak juga meningkat.

Hasta mengatakan PAD dari pajak hotel dan restoran pada 2019 mencapai Rp 96,7 miliar. Ia memastikan tahun ini sudah pasti tidak akan sama seperti tahun 2019 silam.

Untuk mencapai separuhnya saja, Hasta mengaku pesimistis. Data Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah atau BPPKAD Kota Solo menyebut realisasi pajak hotel dan restoran termasuk yang paling berat mencapai target.

Pada sisi lain, Pemkot Solo memberikan keringanan pajak hingga 30% kepada para pengusaha. Keringanan ini diklaim tertinggi se-Jawa Tengah.

Kepala BPPKAD Solo, Yosca Herman Soedrajad, mengatakan hingga awal Oktober, realisasi pendapatan pajak hotel baru mencapai Rp 13,9 miliar. Pajak restoran Rp 27,6 miliar dan pajak hiburan Rp 5,3 miliar.

“Kami memang tidak kasih target tinggi karena kami tahu mereka paling terdampak saat pandemi ini. Apalagi tiga bulan awal itu tidak ada pemasukan sama sekali,” katanya, belum lama ini.

Sementara itu, dalam wawancara ekskluif dengan Soloraya.id beberapa waktu lalu, Ketua Bidang Humas Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Sistho A. Srestho, mengatakan bahwa saat Pemkot  Solo mendeklarasikan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 14 Maret 2020, saat itulah bisnis perhotelan rontok seketika.

Sistho yang juga General Manager The Alana Hotel and Convention Solo ini bahkan mengaku nilai kerugian yang dialami di hotel yang dia pimpin saat  itu mencapai hampir Rp. 1 Milyar  dalam waktu 2 jam saja.

Namun saat ini dengan dilonggarkannya pembatasan oleh pemerintah, tingkat okupansi hotel sedikit demi sedikit mengalami kenaikan, khususnya Hotel bintang 4 yang berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Solo yang mengalami kenaikan tingkat okupansi hampir di angka 30 persen.

Hal ini dijelaskan Sistho bahwa hotel bintang 4 keatas memiliki fasilitas yang memadai, seperti tipe kamar dengan kapasitas besar untuk satu keluarga  hingga ruang-ruang pertemuan dengan beragam kapasitas.

Tags: , ,