Parama Suteja, Mahasiswa Harvard Asal Solo dengan Beasiswa Penuh

Parama Pradana Suteja, putra Solo kelahiran 25 tahun silam ini mendadak menjadi sorotan media karena dirinya diterima oleh 11 universitas ternama di AS untuk program pasca sarjananya, salah satunya Harvard University.

Dalam wawancara eksklusifnya dengan Soloraya.id, Parama yang sebelumnya menyelesaikan studi S1-nya di UC (University of California) Berkeley, jurusan arsitektur ini menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan bisa mengambil studi di AS karena latar belakang pendidikannya berasal dari sekolah berbasis kurikulum nasional.

Namun keputusannnya mendadak berubah saat dirinya bertemu dengan mantan kakak kelasnya saat duduk di bangku SMA di Solo yang bersekolah di AS dan bekerja di Apple Inc. Pertemuan itu membuat dirinya akhirnya memilih untuk studi di AS dan saat studi S1-nya, Parama mencoba peruntungan untuk melanjutkan studi program pasca sarjana dan mengejutkannya, Parama diterima di 11 universitas ternama di AS dengan 7 penawaran beasiswa.

Parama juga menjelaskan bahwa di AS, ada dua jenis beasiswa yang diberikan, yang pertama adalah Financial Aid yang diperuntukan untuk mereka yang membutuhkan bantuan secara keuangan dengan kategori penghasilan orang tua berada dibawah jumlah tertentu.

Kemudian yang kedua ada Merit Based Scholarship yang diberikan kepada mereka dengan kelayakan yang dimiliki, biasanya memiliki bakat tertentu dalam bidang yang spesifik, misalnya seorang atlet yang menjuarai banyak kompetisi, atau mereka jago dalam ilmu sains dan pernah mengikuti dan memenangkan olimpiade sains dan bisa juga piawai dalam bidang musik dan menjuarai kompetisi, dll.

Dalam hal ini Parama mendapatkan beasiswa yang kedua dari universitas yang dia pilih sekarang, yaitu Harvard University. Diakui juga oleh Parama bahwa dirinya tidak menyangka bisa mendapatkan beasiswa itu karena awalnya dia tidak pernah mendaftar tapi karena pihak Harvard terkesan dengan dokumen pendaftaran yang dia ajukan sehingga dia mendapatkan keistimewaan untuk menerima beasiswa ini.

Baca Juga:  Mahfud MD Ditantang FPI Untuk Tracing di Solo & Surabaya

“Kalau kita mempersiapkan formulir pendaftaran kita dengan baik, bukan kitanya yang mencari sekolahnya malahan sekolah itu yang mencari kita.” Jelasnya kepada Soloraya.id, Senin (26/10/2020).

Parama mengaku bahwa proses pendaftaran masuk program pasca sarjananya ini sudah dia persiapkan bahkan sebelum dirinya lulus S1 di UC Berkeley sehingga dirinya memberanikan diri untuk mendaftar di 11 universitas tersebut. Proses pendaftarannya mulai dari mengisi formulir secara daring, menulis essay, menyertakan pengalaman kerja, kompetisi-kompetisi yang pernah diikuti hingga rekomendasi dari professor.

Saat memutuskan untuk memilih satu universitas dari 11 universitas yang menerima dirinya, Parama diberi waktu sekitar 1 bulan dari hari pengumuman untuk menentukan pilihan. Selama proses 1 bulan itu, univeristas-universitas  ini mengadakan semacam open house secara virtual melalui zoom meeting, dan masing-masing universitas memberikan presentasinya berupa rincian informasi yang penting terkait universitas tersebut.

Dari open house tersebut akhirnya Parama menentukan pilihannya di Harvard University yang berlokasi di Cambridge, Negara Bagian Massachusetts. Alasan Parama memilih Harvard University karena menurut dia, Harvard University memiliki filosfi desain yang cocok dengan dirinya di bidang aristektur.

Parama juga mengaku saat menempuh studi S1-nya di UC Berkeley, empat dosen yang mengampu dirinya adalah lulusan Harvard University yang memiliki filosofi desain yang kuat sehingga pertimbangannya untuk memilih universitas ini juga makin kuat.

Selama hampir dua bulan lebih menjadi mahasiswa S2 di Harvard, Parama yang saat ini masih menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) dikarenakan masa pandemi, dirinya justru menemukan pelajaran menarik. Jika sebelumnya segala bentuk presentase dan kolaborasi kerja dilakukan secara langsung, di masa pandemi ini bisa dilakukan secara daring tanpa harus menghabiskan waktu di perjalanan untuk bertemu secara langsung atau berada di lokasi secara fisik. Hal ini bagi Parama menjadi ide baru yang bisa digunakan untuk bisnis arsitek kedepan kelak yang menurutnya sangat efisien.

Baca Juga:  Angka Covid-19 Soloraya Tembus 11.832 Kasus

Karena  menajalani PJJ, tentunya ada penyesuaian yang dia lakukan, khususnya dalam hal waktu. Dikarenakan jarak perbedaan waktu antara Solo dengan Cambridge sekitar 11 jam, maka dirinya harus benar-benar menyesuaikan time table-nya. Selama kuliah PJJ ini, dirinya biasanya menjalani jam kuliah dari jam 9 malam hingga jam 1  atau jam 2 dini hari.

Menjadi mahasiswa dari kampus paling bergengsi membuat Parama bersyukur dan ingin membagikan pengalamannya, oleh karena itu dirinya akhir-akhir ini aktif dalam membuat konten-konten di kanal YouTubenya, Parama Suteja dan juga akun Instagramnya @parama_ps, selain itu juga dirinya aktif menjadi pembicara di beberapa webinar edukasi.

Melalui konten-konten digitalnya ini, dirinya juga ingin berkontribusi untuk Indonesia, dengan memberikan tips-tips bagi siapapun yang ingin melanjutkan studi di luar negeri hingga memberikan tips belajar yang menyenangkan.

“Saya sadar bahwa kehidupan itu lebih dari hanya sekedar membuat perusahaan arsitek, tujuan saya yaitu tidak hanya membangun sebuah bangunan, tapi juga membangun manusia.” Ungkap Parama.

Menjelang hari Sumpah Pemuda, Parama sebagai salah satu pemuda Indonesia di Solo berpesan kepada teman-teman muda untuk selalu memiliki mimpi. “shoot for the moon, even if you miss, you’re laying among the stars” adalah quote favoritnya yang berarti “Kalau kalian punya mimpi itu harus setinggi-tingginya seperti akan menggapai bulan, bahkan kalau tidak mencapai bulan tersebut, kalian sudah berada di bintang-bintang.” jelasnya.

Tags: , ,