Penanganan Covid-19, Mendagri: Harus Dicari Rumus Keseimbangan untuk Kesehatan dan Ekonomi

Penanganan Covid-19, Mendagri: Harus Dicari Rumus Keseimbangan untuk Kesehatan dan Ekonomi

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan keberlangsungan sektor perekonomian dan menjaga kesehatan masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

Tito mengatakan penanganan pandemi Covid-19 harus mempertimbangkan aspek multidimensi, yaitu dari aspek kesehatan, ekonomi dan politik. Sebab menurutnya harus ada rumusan keseimbangan agar menjaga angka penularan dan ekonomi tak lesu.

Pada acara talkshow ‘Anak Muda Bawa Perubahan’, Tito mengatakan, “Tertekannya ekonomi akan membuat bertambahnya pengangguran, penduduk miskin, dan yang lain. Sebaliknya, kalau mengutamakan menyelamatkan ekonomi, maka akan mengorbankan kesehatan publik, yang merupakan masalah kemanusiaan”.

Tito menjelaskan bahwa kedua aspek tersebut harus diselamatkan, dimana masalah kesehatan tetap menjadi prioritas utama, sedangkan ekonomi juga harus tetap bertahan. Untuk itu harus dicari rumus agar menyeimbangkan kesehatan dan ekonomi dalam penanganan Covid-19.

“Tidak berarti kita mematikan ekonomi. Ekonomi juga harus tetap bisa survive, meskipun tertekan. Oleh karena itu, harus dicari rumusan balancing, rumusan keseimbangan menyelamatkan kedua-duanya. Kesehatan bisa terkendali, tertangani penularan bisa dalam kontrol, tapi ekonominya juga tetap bisa survive. Itulah yang menjadi tantangan dari dari para pengambil kebijakan,” kata Tito.

Pandemi Covid-19 tak hanya mempertimbangkan kajian dari bidang kesehatan saja, tetapi juga melihat aspek dampak ekonomi, sosial, politik dan keamanan.

“Katakanlah teman-teman di bidang kesehatan, epidemolog kesehatan publik, hanya black and white mengatur atau ingin mengendalikan penularan Covid-19 tanpa melihat aspek dimensi ekonomi, sosial politik dan keamanan,” ujarnya.

“Demikian juga rekan-rekan yang memahami atau bekerja di bidang ekonomi tidak cukup hanya ilmu ekonominya saja menangani pandemi ini, tapi juga harus mulai belajar juga masalah kesehatan, memahami tentang prinsip virologi virus Covid-19 apa kelebihan, kelemahannya, bagaimana cara mengatasinya baik pencegahan maupun treatment,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Tito meminta agar pengambil kebijakan terutama pimpinan negara seperti menteri, kepala daerah, DPRD membuat kebijakan dengan mempertimbangkan dari berbagai bidang keilmuan, tidak hanya kesehatan saja atau ekonomi saja.

Selain itu, Mendagri juga meminta kepada mahasiswa yang melakukan kegiatan KKN tematik Covid-19 ikut mempelajari aspek multidimensi tersebut. Serta mensosialisasikan protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak kepada warga.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo pun mengatakan, krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang terjadi di semua negara ibarat komputer.

Sama seperti komputer yang bisa macet, ekonomi negara pun bisa macet (hang) karena adanya gangguan teknis yang tidak diduga-duga datangnya. Untuk itu, semua negara perlu mematikan “komputer”-nya sesaat agar pengoperasian kembali lancar.

“Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang macet, sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart, harus melakukan rebooting. Semua negara punya kesempatan men-setting ulang sistemnya,” kata Jokowi dalam Pidato Kenegaraan, hari Jumat (14/8/2020) silam.

Jokowi menyatakan, krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 bisa menjadi peluang dan momentum bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.

Tags: , ,