Per Senin 9 November 2020, Pemkab Klaten Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Erupsi Merapi

Per Senin 9 November 2020, Pemkab Klaten Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Erupsi Merapi

Sejak hari Senin (9/11/2020) lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten telah menetapkan status tanggap darurat bencana letusan Gunung Merapi.

Surat Keputusan (SK) Bupati Klaten Nomor 360/318/ Tahun 2020 itu ditandatangani Penjabat sementara (Pjs) Bupati Klaten Sujarwanto Dwiatmoko.

Sip Anwar selaku Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mengatakan, “Tanggap darurat ini mulai berlaku sejak kemarin (9/11) sampai 16 November mendatang. Kami hanya mengambil sepekan dengan tetap melihat perkembangan Merapi. Bisa diperpanjang sampai tiga kali sesuai dengan Peraturan Kepala BNPB”.

Anwar menegaskan bahwa sebenarnya sejak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja menaikkan status menjadi siaga, berbagai langkah telah diambil.

Baca Juga:  Nama Solo Dipakai Bhayangkara FC, Bagaimana Nasib Persis Solo?

Salah satunya yakni mengadakan koordinasi dengan instansi terkait yang langsung dipimpin oleh Pjs bupati Klaten.

Anwar menjelaskan, “Kami mengoordinasikan instansi terkait mengambil langkah-langkah strategis sesuai dengan tupoksi masing-masing. Menyadari sebagai garda terdepan, kami juga berkoordinasi dengan para kepala desa dan relawan untuk mengondisikan sesuai aturan yang berlaku maupun SOP sesuai rencana kontijensi“.

Tidak hanya itu saja, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah desa melakukan evakuasi mandiri terhadap kelompok rentan mulai dari lansia, ibu hamil hingga disabilitas.

Terutama mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III di Desa Balerante dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Serta di Desa Sidorejo, di mana untuk warga di desa ini belum melakukan evakuasi mandiri.

Baca Juga:  Simulasi PTM SMP di Solo Disetop Sementara. Ada Apa?

Pihaknya menyampaikan bahwa meski warga Desa Sidorejo belum melakukan evakuasi mandiri di tempat evakuasi sementara (TES), tetapi BPBD tidak memaksa.

Mengingat masing-masing desa yang ada di KRB III memiliki SOP tersendiri dalam mengantisipasi bahaya erupsi Merapi. Namun, GOR Kalimosodo yang ada di desa setempat sudah disiapkan sebagai TES.

Anwar menambahkan, “Kami terus lakukan pendekatan secara persuasif agar tidak menimbulkan kepanikan warga di KRB III. Termasuk memberikan pemahaman berbagai pihak jika warga diharuskan evakuasi, maka dilakukannya secara mandiri. Jadi hanya pihak-pihak tertentu saja nantinya yang naik ke atas”.

Tags: , ,