Perkenalkan Seni Wayang Suket, 2 Seniman Muda Siap Tour 20 Kota/Kabupaten Se-Jawa

Wayang suket adalah seni pewayangan yang sudah ada sejak lama yang berkembang di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun keberadaan seni wayang suket ini masih belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Oleh karena itu, dua seniman muda yang tergabung dalam Wayang Suket Indonesia ini akan melakukan workshop dan pertunjukan kecil-kecilan di lebih dari 20 Kota dan Kabupaten di Pulau Jawa untuk memperkenalkan wayang yang terbuat dari bahan suket atau rumput dalam Bahasa Jawa. Tour ini akan dimulai selama 60 hari, mulai tanggal 26 Oktober hingga 26 Desember 2020 mendatang.

Dalam melakukan kegiatan ini, Wayang Suket Indonesia melalui Dinas Kebudayaan Surakarta, mendapatkan hibah atau bantuan berupa dana sebesar Rp. 251 juta dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebagai awal kegiatan, Dinas Kebudayaan Surakarta menggelar acara pelepasan untuk Wayang Suket Indonesia yang akan memulai agenda dengan nama “Workshop and Performing Tour Wayang Suket Indonesia 1.0 (JAVA) 2020”.

Acara pelepasan ini digelar di halaman Kantor Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, Jl. Slamet Riyadi No 275, Sriwedari, pada hari Senin (26/10/2020) pada jam 08.00 WIB.

Ditemui oleh wartawan, pendiri dari Wayang Suket Indonesia, Gaga Rizki, menjelaskan bahwa untuk tournya nanti, dia dan rekannya akan memperkenalkan seni wayang suket, mulai dari apa itu wayang suket hingga sejarah dan filosofinya. Selain itu dirinya akan melakukan pelatihan membuat wayang suket untuk anak-anak secara gratis dan menggelar pementasan kecil-kecilan.

Baca Juga:  Satgas Covid-19 Solo: Ada Pelaku Hajatan yang Bikin Aturan Sendiri!

Gaga juga menjelaskan bahwa lokasi pelatihannya beragam, bisa menggunakan sekolah atau tempat-tempat umum namun karena masa pademi, dirinya tetap menerapkan protokol kesehatan berupa pembatasan peserta seminar maksimal 30 orang, serta penyediaan masker dan tempat cuci tangan.

“Kami (Wayang Suket Indonesia) prioritaskan ke anak-anak sekolah karena mereka adalah generasi muda dan jika ada car free day di kota yang kami kunjungi, kami juga akan menggelar seminar ditempat untuk umum”, jelas Gaga kepada wartawan.

Meskipun dirinya berasal dari Jawa Timur, Gaga akan tetap membawa nama Solo untuk agenda tournya ini. Alasannya, dirinya dulu pernah berkuliah di Kota Solo pada tahun 2014 silam, dan dirinya mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan selama masa kuliahnya sehingga dirinya merasa hutang budi untuk kota Solo.

Sementara itu, diwawancarai terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan Surakarta, Drs. Agus Susanto.,MM, mengatakan bahwa wayang suket ini merupakan warisan budaya lokal, selain itu karena komunitas Wayang Suket Indonesia ini memberikan kontribusi untuk kota Solo, maka hal ini menjadi pertimbangan kuat Dinas Kebudayaan Surakarta memberikan rekomendasinya ke Kemendikbud sehingga bantuan dana itu bisa turun.

“Kemarin semua komunitas pelaku seni yang mengajukan ke Kemendikbud, kita tanya, kontribusi untuk kota Solo apa? Selama itu bisa memberikan kontribusi ke Solo, tetap kami (Dinas  Kebudayaan Surakarta) berikan rekomendasi untuk mengajukan permohonan itu”, jelas Agus kepada wartawan.

Baca Juga:  Satgas Covid-19 Masih Pertimbangkan Soal Tutup Sementara Pasar Gede

Acara pelepasan dilakukan dengan cara simbolis dimana Gaga dan rekannya menaiki sepeda motor yang akan digunakan untuk tour dan melewati tali suket yang sudah dipotong oleh Kepada Dinas Kebudayaan. Sebelumnya juga dilakukan pemotongan tumpeng oleh Kepala Dinas Kebudayaan Surakarta dan penyerahan karya wayang suket dari Wayang Suket Indonesia kepada Dinas Kebudayaan Surakarta.

Sebagai awal agenda tour, Wayang Suket Indonesia melakukan workshop pertamanya setelah acara pelepasan di Studio Kopi Ndaleme Eyang di area Sumber. Workshop ini diikuti sekitar 7 anak-anak yang berada di lingkungan tersebut. Dalam workshop itu, mereka memberikan sesi bagaimana membuat wayang suket dan menggunakannya sebagai media sesi cerita. Cerita yang digunakan tidak ada pakem, bisa menggunakan cerita apa saja, biasanya yang digunakan adalah cerita rakat.

Salah satu orang tua anak yang mengikuti sesi workshop, Ade Kustriastuti, mengaku senang dengan adanya kegiatan ini, harapannya kedepan bisa lebih sering menggelar sesi-sesi serupa.

Tournya sendiri akan dimulai dari Solo, kemudian Tangerang, Jakarta, Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Semarang, Tuban, Surabaya, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Malang, Malang, Kediri, Ponorogo dan kembali ke Solo. Namun tak menghindari kemungkinan, kota/kabupten yang dikunjungi bertambah tergantung adanya permintaan.

Tags: , ,