PHRI Surakarta: Masa Pandemi Adalah Bencana Besar Bagi Perhotelan Solo Raya

Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia awal Maret 2020 lalu hingga sekarang tidak hanya berdampak pada kesehatan saja, namun juga menghantam sendi-seni perekonomian, khususnya industri hospitality seperti perhotelan.

Soloraya.id mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran  Indonesia (PHRI) Surakarta, Sistho A. SRESHTHO, ST, CHA, terkait imbas yang terjadi akibat pandemi ini. Sistho dengan gamblangnya berkata bahwa dampak yang diakibatkan masuknya wabah asal  Wuhan,  Tiongkok ini sangat besar di industri hospitality,  khususnya hotel.

Sistho menerangkan bahwa industri perhotelan yang merupakan bagian dari sektor pariwisata ini benar-benar terdampak karena kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat dari pemerintah saat itu, dimana transportasi umum, baik darat, laut dan udara dibatasi. Selain itu juga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di beberapa kota besar sangat mempengaruhi roda perekonomian perhotelan di Solo Raya secara umum.

“Kalau kita bicara pariwisata, dampaknya [wabah] sampai  ke tingkat paling bawah karena semuanya berperan, disana ada sektor transportasi, ada sektor perhotelan, rumah makan, vendor, laundry, supplier sayuran dan lain-lain, domino effect-nya ini akan mengimbas sektor-sektor ini.” Jelas Sistho kepada Soloraya.id, Jumat (25/09/2020)

Baca Juga:  Wali Kota Solo Akan Siaran Perdana di Uji Coba TV Pendidikan Milik Pemkot

Sistho menerangkan bahwa tingkat  okupansi hotel di Solo Raya sebelum masa pandemi ini mencapai hingga 70  persen dan ketika Covid-19 masuk ke Solo Raya, khususnya Surakarta pada 13 Maret 2020 silam, dan akhirnya Walikota mendeklarasikan status  darurat yang dikenal dengan Kejadian Luar Biasa (KLB), hari berikutnya menjadi bencana besar bagi bisnis perhotelan Solo  Raya

Sistho yang juga merupakan General Manager Alana Hotel & Convention Center Solo mengaku bahwa kerugian di hotel yang dia pimpin sendiri mencapai Rp. 1 Milyar hanya dalam  waktu 2 jam saja untuk kegiatan MICE (Meeting, Incentives, Conferencing & Exhibition) saja, seperti seminar dan pertemuan-pertemuan  lainnya.

Untuk tingkat okupansi sendiri di hotel se Solo Raya,  pada bulan April mengalami penurunan hingga 9 persen dan bagi Sistho, itu adalah bencana besar di dunia perhotelan Solo Raya saat  itu meski angkanya hanya 1 digit saja.

Tidak ada laporan secara tertulis  dari masing-masing hotel terkait imbas kerugian yang dialami  karena memang saat itu masing-masing hotel sedang sibuk-sibuknya memikirkan strategi-strategi yang dilakukan untuk tetap bertahan. Laporan hanya disampaikan secara lisan dan singkat melalui group chat di platform pesan instan.

Baca Juga:  PDIP Pecat Cawabup Klaten Harjanta yang Maju Pilkada 2020 Lewat Partai Lain

Masa pandemi ini akhirnya membuat para pelaku industri hospitality untuk lebih agresif dengan melakukan segala upaya supaya tetap  bertahan, khususnya di bidang sales of service, dimana ada hotel yang  menjual paket makanan dalam box, memberikan layanan ruang kerja atau yang dikenal dengan Work From Hotel (WFH) dengan menawarkan segala kenyamanan dan keamanan, bahkan ada hotel yang menawarkan jasa kebersihan ke rumah-rumah dan perkantoran dan pengetatan anggaran, seperti melakukan unpaid leave (cuti yang tidak  dibayar) dan pemutusan hubungan  kerja (lay off).

Sistho menjelaskan bahwa selama periode awal pandemi, yaitu mulai dari bulan Maret-Mei, semuanya dilakukan dengan tujuan survival mode karena diakui Sistho, secara teori  dasar, tidak ada dalam semua buku panduan perhotelan yang menjelaskan strategi untuk menghadapi masa pandemi seperti saat ini.

“We did  our best untuk menjaga expense, karena dalam perhotelan ada 2 fix expenses yang besar, yaitu payroll atau gaji pegawai dan energy cost, seperti listrik dan diesel.”  Tambah  Sistho

Tags: , , ,