PMI Solo: Dibutuhkan Banyak Pendonor Plasma dari Penyintas Covid-19

Kasus Covid-19 di Indonesia belum menunjukan tanda-tanda penurunan. Dalam pantauan Soloraya.id yang mengacu pada sumber dari Kementrian Kesehatan, tercatat ada lebih dari 3000 kasus baru per 6 November yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Segala macam metode pengobatan dilakukan untuk mempercepat pengobatan, salah satunya yaitu metode terapi plasma konvalesen. Dalam sebuah wawancara eksklusif Soloraya.id terkait metode plasma ini, dr Kunti Dewi Saraswati.,SP.,PK.,M.Kes, selaku Kepala Unit Donor Darah PMI Solo, menjelaskan bahwa terapi plasma ini bukanlah hal yang baru. Metode ini rupaya sudah digunakan dalam kondisi-kondisi pandemi sebelumnya yang sama-sama disebabkan oleh virus.

Metode ini bukan pengobatan utama, melainkan hanya pengobatan sampingan yang diberikan kepada pasien Covid-19 dengan kondisi moderate yang sebelumnya sudah melewati pengobatan utama, seperti bantuan ventilator dan pengobatan utama lainnya.

Dikarenakan penderita Covid-19 ini disebabkan oleh virus, maka yang bisa menyembuhkan adalah antibody yang ada dalam tubuh sehingga timbulah inisiatif untuk menggunakan plasma konvalesen ini yang diambil dari darah penyintas (pasien yang sembuh dari Covid-19) yang dirasa mengadung antibody yang diperlukan untuk mengobati pasien Covid-19 dengan  kondisi moderate tersebut.

“Antibody ini hanya dimiliki oleh mereka yang pernah sakit Covid (penyintas), jadi kalau orang yang sehat dan belum terserang Covid mau mendonorkan plasma-nya ya tidak bisa karena tubuhnya sendiri belum membentuk antibody yang dibutuhkan”, Jelas Kunti.

Metode pengambilan plasma konvalesen yang dilakukan menggunakan metode apheresis. Dengan metode ini bisa mengambil plasma dari satu orang sebanyak 500-600 ml. Jika menggunakan metode donor biasa, memerlukan 4-5 pendonor untuk bisa memenuhi kriteria jumlah yang harus diberikan.

Baca Juga:  Dapat Kucuran Dana Rp 28 Miliar di Bisnis Kulinernya, Gibran: Ini Hadiah untuk Kaesang

Sementara itu, satu pasien Covid-19 memerlukan setidaknya 200 ml plasma yang diberikan 2 kali sehingga dibutuhkan minimal 400 ml plasma untuk satu pasien covid-19. Selain itu, dengan metode apheresis ini bisa meminimalkan reaksi transfusi yang dialami pasien karena yang ditransfuiskan murni plasma saja. Kandungan darah lainnya dikembalikan ke tubuh pendonor.

Persyaratan untuk menjadi pendonor plasma konvalesen ini hampir mirip donor darah, namun ada beberapa persyaratan lain yang berbeda, selain sudah tentu pendonor adalah penyintas dengan usia 18-60 tahun dan sembuh dari Covid-19 lewat uji usap dengan hasil negatif, dan sudah melakukan karantina selama maksimal 2 minggu dari waktu ditetapkan  sembuh dari Covid-19, pendonor juga diharuskan pria. Alasannya, untuk wanita, khususnya yang sudah memiliki anak, dalam plasmanya terdapat antibody antigen yang bisa memberikan reaksi transfusi bagi pasien.

Pendonor juga bisa kembali mendonorkan plasmanya setelah dua minggu berikutnya dari hari dirinya melakukan donor plasma konvalesen ini dan plasma ini juga bisa bertahan hingga satu tahun dalam ruang pendingin.

Kunti juga menegaskan bahwa efek samping dari donor plasma ini kecil jika semua persyaratan dari screening terpenuhi. Minimal efek samping yang dirasakan adalah nyeri tusukan dan efek samping ringan lainnya yang bisa dengan mudah ditangani.

“Ada satu penyintas yang mendonorkan plasmanya, saat saya tanyai rasanya gimana. Dia bilangnya gak berasa apa-apa”, jelas Kunti.

Baca Juga:  OJK Solo Jadwal Ulang Pertemuan Dengan Maybank Karena Nasabah Absen

Kunti dalam hal ini juga tidak menyangkal adanya resiko transfusi pasien yang menerima terapi ini karena memang tidak bisa diprediksi meski tidakan preventif sudah dilakukan untuk meminimalisir resiko namun harus diingat kembali bahwa kondisi tubuh pasien berbeda-beda. Oleh karena itu pasien Covid-19 dengan kondisi moderate yang sudah melewati pengobatan utama lebih diutamakan karena memang terapi ini tidak diberikan diawal perawatan.

“Meski sudah diminimalkan (resiko transfusi), masih saja ada yang mengalami reaksi seperti gatal-gata, ruam dan lain sebagainya”, ungkap Kunti.

Kunti tidak menyangkal bahwa sejauh ini pengadaan plasma konvalesen masih kurang meskipun pihak PMI Solo sudah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit, seperti RSUD Moewardi, RS UNS, dan RSUP dr Suraji Tirtonegoro Klaten serta Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Banyak sekali permintaan dari beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa Tengah namun persediaan belum memadai.

Karena kebutuhan pasien Covid-19 tidak bisa ditunggu lagi, PMI Solo juga berkolaborasi dengan RSPAD Gatot Subroto Jakarta untuk untuk pengadaaan plasma hingga bekerjasama dengan PMI di Jawa Timur, seperti Surabaya dan Sidoarjo yang jumlah pendonornya mencapai 200 orang.

“Ayo para penyintas Covid-19 di Soloraya, saya persilahkan untuk datang ke PMI Solo, karena masih banyak pasien yang membutuhkan. Kalau masih ragu-ragu bisa silahkan datang langsung ke unit untuk konsultasi terlebih dahulu”, pungkas Kunti.

Tags: , ,