Polisi Tangkap 9 Pelaku Premanisme di Solo, 10 Orang Masuk DPO

Polisi Tangkap 9 Pelaku Premanisme di Solo, 10 Orang Masuk DPO

Polisi berhasil menangkap kelompok pelaku premanisme bersenjata tajam di Solo.

Tedapat sembilan orang tersangka yang sudah ditangkap dan ada 10 orang yang masih dalam pengejaran atau masuk daftar pencarian orang (DPO).

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kapolda Jawa Tengah yakni Irjen Ahmad Luthfi dalam jumpa pers di Mapolresta Solo.

Pada hari Jumat (26/2/2021) kemarin, Ahmad menuturkan, “Di Sondakan, Laweyan, ada tiga TKP. Dari situ kita tangkap enam orang tersangka. Masih ada 8 orang DPO (daftar pencarian orang)”.

Kapolda menyebut bahwa para pelaku mengaku melakukan aksi sweeping karena menemukan perjudian di kampung.

Aksi itu mereka lakukan dengan dalih amaliah.

Dalam aksinya, keenam pelaku ini membawa sarana berupa sepeda motor, sajam, dan tongkat pemukul (button stick).

Bukannya melapor kepada polisi, mereka justru melakukan penganiayaan hingga mengambil uang.

“Menjurus ke premanisme, karena itu mengancam, merusak, jadi masyarakat kita ada yang kena bacok, uang diambil, sarana dirusak. Itu sudah preman. Kita tidak menolerir itu,” jelas Ahmad Luthi.

“Sama modusnya. Mengancam dengan samurai di poskamling. Dari lima orang pelaku bisa kita tangkap tiga orang, dua DPO,” tambahnya.

Enam tersangka dari TKP Sondakan adalah AJ, HS, AYAM alias AB, YJP, FN dan YRS. Sedangkan tiga tersangka dari TKP Danukusuman ialah SZ, DWNZ dan TP.

“Barang bukti samurai dan sajam itu 8 biji, 4 buah kendaraan, ada 1 stik yang digunakan dalam rangka kegiatan melawan hukum”, ungkap Lutfi

Kepada para DPO, Ahmad meminta agar mereka segera menyerahkan diri.

“Kita akan kejar. Kita akan jebol sampai akar-akarnya, kelompok tertentu yang menjurus premanisme di wilayah Surakarta. Khususnya di Jateng tidak ada kegiatan masyarakat yang menjurus premanisme,” tegasnya.

Dalam kasus tersebut, polisi sudah memeriksa 19 orang saksi dan sejumlah alat bukti pun dinilai cukup untuk menjerat para tersangka.

“Dasarnya laporan masyarakat. Kita kembangkan dengan bukti digital, rekaman CCTV, kita padukan, keterangan 19 saksi kita kroscek, match, cukup bukti 6 dan 3 orang jadi tersangka,” tuturnya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 KUHP, Pasal 335 KUHP dan Pasal 2 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

“Ancaman 15 tahun (penjara). Ada UU darurat, penganiayaan”, katanya lagi.

“Saya imbau kepada masyarakat atau yang lainnya tidak ada organisasi atau apapun bentuknya yang melakukan tindakan kepolisian. Tidakan kepolisian yaitu mulai memanggil, memeriksa, tangkap dan tahan. Apalagi melakukan sweeping, tidak ada,” tegasnya.

Tags: , ,