Prokes Ketat di Hotel Jadi Kunci Kepercayaan Tamu untuk Menginap di Masa Pandemi

Masa new normal atau tatanan kenormalan baru selama masa pandemi dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis untuk memulihkan pundi-pundi usaha mereka, salah satunya adalah industri perhotelan. Alila Hotel Solo sebagai hotel bintang lima bertaraf internasional dengan suasana lokal mengalami pertumbuhan yang siginifikan sejak adanya pelonggaran, baik dari pemerintah pusat ataupun dari pemerintah lokal kota Solo sendiri.

Sejak reopening pada 1 Juli lalu setelah sebelumnya Alila Solo menghentikan operasionalnya selama dua bulan, dari bulan Mei-Juni, tingkat okupansi mencapai hingga 100 persen, khususnya pada waktu akhir pekan. Serta  banyaknya perhelatan pernikahan dengan standar protokol kesehatan (prokes) mulai digelar.

Saat perekonomian sedang merangkak naik, pemerintah kota Solo kembali mendeklarasikan diri sebagai kawasan zona hitam Covid-19 yang dikarenakan ada kasus Covid-19 yang baru sebanyak sekitar 25 orang terinfeksi yang didominasi oleh tenaga kesehatan pada pertengahan Juli lalu.

Penetapan zona hitam ini secara otomatis kembali menghancurkan sektor perekonomian kota Solo yang saat itu sedang merangkak naik, dan lagi-lagi sektor perhotelan yang paling merasakan dampaknya. Tesa menyebutkan banyak event-event pernikahan yang dibatalkan, dan tamu hotel yang sudah reservasi kamarpun juga membatalkan rencana menginapnya.

“Seketika drop (bisnis perhotelan), banyak cancellation, mulai dari banyak acara (pernikahan) yang tidak jadi hingga tamu yang mau menginap juga cancel dan itu terjadi seketika pada hari itu”, Jelas Public Relation (PR) & Event Marketing Manager Alila Hotel Solo, Tesa Pujiastuti,  dalam wawancara eksklusifnya dengan Soloraya.id.

Sebagai salah satu pelaku wisata, Tesa mengaku kebingungan dengan kebijakan pemerintah kota Solo saat itu, namun Tesa dan manajemenya di Alila Solo tetap mengikuti anjuran yang diberikan. Selain itu dirinya dan tim kembali mengembalikan kepercayaan tamu bahwa Solo aman melalui standarisasi protokol kesehatan yang ketat diterapkan dan bagi Tesa, itu adalah beban kerja yang keras dan akhirnya kepercayaan pelanggan kembali diterima oleh Alila Solo.

Dari zona hitam kemudian gagasan wali kota pada akhir September silam yang melarang adanya wedding singer di setiap perhelatan pernikahan kembali menjadi polemik. Meski belum ditetapkan secara resmi melalui Surat Edaran (SE), gagasan ini dinilai merugikan para wedding singer dan band musik di kota Solo.

Tesa dan tim waktu itu juga sempat benar-benar dalam kepanikan karena pernyataan wali kota itu keluar beberapa hari saja sebelum acara pernikahan yang digelar di Alila dimana pemilik acaranya mengundang salah satu penyanyi ibu kota.

Namun setelah akhirnya berkoordinasi dengan tim satgas kota Solo, akhirnya acara pernikahan tetap berjalan seperti yang sudah direncanakan dan penyanyi tetap tampil namun tidak boleh melakukan interaksi dengan para tamu.

Salah satu upaya untuk menarik kembali kepercayaan masyarakat kepada Alila Solo adalah dengan menyorot kota Solo itu sendiri, seperti apa saja keunikannya yang bisa menarik orang luar Solo untuk mau datang ke Solo. Kemudian baru menyorot Alila Solo mulai dari standarisasi prokes yang diterapkan hingga fasilitas apa saja yang bisa didapat serta experience apa saja yang disediakan yang membuat tamu tidak harus keluar hotel saat berlibur di masa pandemi ini.

Apalagi dengan kebijakan pemerintah Solo yang melarang anak-anak, ibu hamil dan lansia masuk ke area-area keramaian, seperti mal, pasar, dan pusat keramaian lainnya membuat Alila semakin menyorot dirinya sebagai one-stop vacation. Seperti yang diketahui, bahwa Alila Solo sebagai gedung tertinggi di kawasan Jawa Tengah tentunya memiliki hal-hal menarik, seperti pemandangan kota di Agra Rooftop dan Sky Lounge dimana para tamu bisa menikmati kota Solo dari lantai 29 dan 30.

Baca Juga:  PKL Bermobil Akan Ditindak Tegas Jika Masih Nekat Buka Lapak Di Alun-Alun Utara

Selain itu juga ada fasilitas kolam renang serta gym yang bisa diakses para tamu. Untuk kuliner sendiri,  di Epice Restaurant sebagai in-house restaurant juga menyediakan makanan-makanan khas Solo, seperti nasi liwet dan makanan tradisional Solo lainnya.

Protokol kesehatan di Alila Solo diterapkan secara ketat, mulai dari pengecekan suhu saat memasuki gedung hotel, mewajibkan para tamu untuk mengenakan masker, check-in digital, dan pembayaran secara cashless.

Untuk fasilitas hotel seperti ruang gym dan alat-alatnya yang selalu disterilisasi setelah digunakan, serta pemberian sekat untuk bagian olahraga kardio hingga disediakannya fasilitas doctor corner untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan.

Selain itu, di masa pandemi ini, fasilitas hotel seperti kolam renang dan gym diprioritaskan untuk para tamu yang menginap. Namun jika ada pengunjung yang bukan tamu ingin menikmati fasilitas tersebut bisa melakukan reservasi terlebih dahulu. Selain itu juga Alila menawarkan kepada tamu apakah barang bawaannya boleh dibawakan atau tidak. Sterilasi kamar juga dilakukan, baik sebelum dihuni tamu ataupun sesudah dihuni.

Tags: , , , ,