Ramai Petinggi Parpol Temui Gibran, Ini Kata Pengamat Politik UNS Solo

Ramai Petinggi Parpol Temui Gibran, Ini Kata Pengamat Politik UNS Solo

Beberapa waktu terakhir, sejumlah elite atau petinggi partai nasional berbondong-bondong berkunjung ke Kota Solo.

Hal tersebut bertujuan untuk menemui Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menjadi salah satu dari sejumlah tokoh yang menemui Gibran.

Cak imin, sapaan akrabnya, awalnya mengaku hanya bersilahturahmi usai Gibran dilantik menjadi wali kota Solo.

Tetapi setelah itu dirinya tidak menampik jika dalam pertemuan itu juga berbincang mengenai Pilkada DKI Jakarta juga NU dan PKB di Solo.

Pertemuan mereka terjadi pada hari Rabu (24/3/2021) lalu.

Kemudian selang 3 hari, giliran Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah yang datang dan ketemu Gibran.

Fahri mengaku, bawa pertemuannya dengan Gibran lebih banyak berdiskusi mengenai konsep pengelolaan kota masa depan.

Sekjen Gerindra Ahmad Muzani juga menyambangi Gibran pada hari Minggu (28/3/2021) kemarin.

Ia menyebut bahwa pertemuannya dengan Gibran tersebut adalah untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya paslon Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa. Pihaknya berharap Gibran bisa membawa efek positif di Solo.

Baca Juga:  FX Rudy Dukung Prananda Prabowo Gantikan Megawati Sebagai Ketum PDIP

Kedatangan para tokoh politik nasional ke Solo ditanggapi oleh pengamat politik UNS, Sri Hastjartjo.

Ia menyebut bahwa kedatangan para petinggi partai politik tersebut memiliki agenda tertentu, apalagi sosok yang didekati itu potensial.

Melansir dari tribunsolo pada hari Selasa (30/3/2021) kemarin, Hastjartjo menuturkan, “Arahnya dekat dengan mas Gibran sebagai Wali Kota Solo ini apakah ada kaitannya dengan pak presiden”.

“Kemudian akan dipakai sebagai jalan masuk untuk berbicara atau berkomunikasi lebih lanjut, itu yang sampai sekarang tidak tahu”, katanya lagi.

Pihaknya mencontohkan bahwa pertemuan antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Gibran pada Agustus 2017 silam.

Di mana saat itu, AHY masih menjabat sebagai Kogasma Partai Demokrat. Belum didapuk sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

“AHY ingin menemui pak Jokowi. Tapi yang menemui Gibran yang saat itu belum jadi Wali Kota Solo,” tuturnya.

Baca Juga:  KAI Commuter Terbitkan Kartu Multi Trip Edisi Khusus Solo

“Berarti latar belakang budaya, daerah masih diakui sebagai faktor yang bisa digunakan dalam negosiasi politik”, ungkapnya.

Namun, keterkaitan antara kedatangan para tokoh politik nasional tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari wacana yang beredar.

Wacana tersebut yakni berkaitan majunya Gibran dalam panggung kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2022.

Menurutnya, kasus lompatan dari wali kota menjadi gubernur lalu presiden, itu tidak bisa dipakai terus menerus.

Meskipun, Jokowi yang merupakan bapak Gibran bisa melakukannya. Tapi itu bukan jaminan bisa terulang kembali.

“Karena berbeda antara Jokowi dan Gibran. Berbeda latar belakangnya. Mas Gibran baru saja masuk ke ranah publik,” tambah Sri.

Pihaknya menilai lebih baik Gibran tidak buru-buru menjadi gubernur dan fokus mematangkan diri sebagai Wali Kota Solo.

Tags: , ,