Saksi Ahli: Penangkapan Tersangka Kasus Penembakan Mobil Bos Duniatex Rancu

Saksi Ahli: Penangkapan Tersangka Kasus Penembakan Mobil Bos Duniatex Rancu

Mopang Panggabean selaku ahli hukum pidana dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) menilai, bahwa prosedur penangkapan terhadap tersangka kasus penembakan mobil bos Duniatex terkesan rancu.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi saksi ahli dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Solo pada hari Rabu (20/01/2021) kemarin.

Kejanggalan tersebut antara lain berkaitan dengan surat perintah penangkapan.

Ia melihat polisi inkonsisten dengan penyebutan istilah ‘tangkap tangan’.

Mopang menuturkan, “Ada beberapa kerancuan yang saya lihat, misalnya dalam hal mereka (polisi) menyatakan pelaku tertangkap tangan”.

Mopang menyebut, prosedur yang dilakukan oleh polisi justru berkebalikan dengan prosedur yang seharusnya saat melakukan tangkap tangan.

Pada persidangan tersebut, Mopang mengatakan, “Dikatakan kalau polisi melakukan tangkap tangan kepada pelaku. Tetapi ternyata ada surat perintah penangkapan. Padahal kalau tertangkap tangan tidak perlu surat tersebut. Ini bukti inkonsistensi”.

Baca Juga:  Pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Hampir Selesai, Kapan Peresmiannya?

Ia juga menjelaskan bahwa polisi telah membuat surat perintah penangkapan sebelum membekuk Lukas Jayadi yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut.

Menurut Mopang, surat perintah tersebut tidak diperlukan dalam kondisi tangkap tangan.

Kemudian polisi juga melakukan gelar perkara. Kembali menurut Mompang, gelar perkara tidak dibutuhkan untuk kasus tangkap tangan.

“Untuk kasus tertangkap tangan, dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 6 Tahun 2019 menyatakan bahwa gelar perkara itu tidak dilakukan jika pelakunya tertangkap tangan”, katanya.

Sementara itu, Sandy Nayoan selaku pengacara tersangka mengaku bahwa melihat ada beberapa kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut.

Hal itulah yang kemudian membuat pihaknya memilih mengajukan gugatan praperadilan.

Untuk informasi, dalam sidang tersebut Polresta Solo sebagai tergugat diwakili oleh Kasubag Hukum yakni AKP Rini Pangastuti.

Rini menyatakan bahwa polisi sudah bekerja sesuai dengan aturan dalam penanganan kasus tersebut.

Baca Juga:  Proyek Revitalisasi Jembatan Mojo Sudah Dimulai, Hanya Kendaraan Roda 2 yang Bisa Lewat

Rini menegaskan bahwa kejanggalan yang disebut saksi ahli tersebut sudah sesuai ketentuan. Kini kasus tetap berlanjut hingga pemeriksaan berkas ke kejaksaan.

Sebagaimana diketahui, Lukas Jayadi (72), tersangka penembakan mobil yang ditumpangi pemilik pabrik tekstil Duniatex di Karanganyar, kembali bergulir.

Pihak Lukas kini mengajukan gugatan praperadilan untuk menguji penetapan tersangka hingga pasal pembunuhan yang dijeratkan kepada tersangka.

Dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal Bambang Hermanto itu, pihak Lukas mengajukan lima orang saksi. Namun, dua dari lima saksi itu yang dihadirkan dalam sidang agenda pembuktian itu ditolak oleh hakim.

Penolakan hakim karena dua saksi itu berstatus istri dan anak Lukas Jayadi. Dalam sidang praperadilan, saksi yang memiliki hubungan darah tidak boleh memberi keterangan.

Tags: , ,