Sejarah Loji Gandrung Rumah Dinas Wali Kota Solo

Sejarah Loji Gandrung Rumah Dinas Wali Kota Solo

Loji Gandrung terletak di Jalan Brigjen Slamet Riyadi Nomor 261, Kelurahan Penumping, Laweyan, Surakarta.

Untuk informasi, tempat itu juga menyimpan sejarah. Salah satunya adalah dahulu tempat itu menjadi markas Gatot Subroto dan Slamet Riyadi menyusun rencana untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada bagian teratas bangunan itu, terdapat ciri khas berupa menara semu berbentuk kaca patri berlambang Kota Surakarta. Terdapat pula konsol-konsol berhias sulur.

Loji Gandung juga memiliki dua sayap bangunan. Sayap barat merupakan kantor staf, sementara sayap timur adalah tempat untuk menerima tamu.

Pada bagian belakang, terdapat pendopo yang kini kerap digunakan sebagai tempat pertemuan.

Masyarakat saat ini memahami, bahwa nama Loji Gandrung diambil dari kegiatan sosialiasi kalangan elite Eropa yang diwarnai pesta makan, minum dan berdansa.

Sehingga secara harfiah dipahami sebagai rumah kolonial (Loji) yang digunakan untuk bersenang-senang (gandrung).

Sejarawan Solo, Susanto memiliki pandangan berbeda terkait sebutan tersebut.

Ia menilai bahwa tempat berpesta dan berdansa pada masa itu bukan di Loji Gandrung, melainkan di Harmoni Straat.

“Kalau tempat dansa, saya kira tidak ada. Itu di Harmoni Strat, tempat untuk berdansa, tepatnya di belakang Beteng”, katanya.

Loji Gandrung sendiri secara turun temurun menjadi rumah kedua para Wali Kota Solo.

FX Hadi Rudyatmo (mantan Wali Kota Solo) pernah bercerita, bahwa awalnya Loji Gandrung merupakan rumah mewah milik seorang pengusaha pertanian asal Belanda, Yohanes Agustinus Dezentye, yang dibangun sekitar 1823 pada jaman Paku Buwono IV.

Pada saat perayaan khusus dan akhir pekan, Yohanes kerap mengadakan pesta-pesta ala Eropa di rumahnya ini.

Selain orang Belanda, sejumlah kerabat Keraton diundang dalam pesta itu.

Diiringi alunan musik, para tamu dengan berpasangan biasa berdansa di ruang tengah, hingga akhirnya masyarakat setempat menyebut rumah mewah tersebut sebagai Loji Gandrung.

Selama bertahun-tahun Loji Gandrung diwariskan secara turun-temurun kepada keturunan Yohanes hingga akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia dan bangunan ini dikuasai oleh Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, Loji Gandrung pernah digunakan sebagai Markas Militer Brigade V Slamet Riyadi, dengan Gubernur Militer dipegang oleh Gatot Subroto.

Tags: , ,