Sempat Bertahan 22 Hari, Bayi Tanpa Tempurung Kepala di Solo Meninggal

Sempat Bertahan 22 Hari, Bayi Tanpa Tempurung Kepala di Solo Meninggal

Diberitakan sebelumnya, bayi bernama Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah milik pasangan Ayu Endang Pujiati (23) dan Syarifuddin Hidayatullah (31) lahir tanpa tempurung kepala.

Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah sendiri terlahir pada 22 Februari 2021 silam.

Arkan, panggilan akrabnya lahir secara caesar dengan berat 3 kilogram dan tinggi badan 4,8 sentimeter di sebuah rumah sakit swasta di Solo.

Namun, setelah bertahan selama 22 hari, bayi tersebut akhirnya meninggal dunia.

Arkan meninggal dunia pada hari Selasa (16/3) pukul 21.00 WIB.

Bayi tersebut dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Bonoloyo, pada hari Rabu (17/3/2021).

Selama tiga pekan terakhir, Ayu dan Syarifuddin berusaha mati-matian agar si buah hati bisa sembuh dari sindrom anencephaly.

Pada hari Rabu (17/3/2021) kemarin, Ayu menuturkan, “Kemarin sore sebetulnya sudah mulai berbeda kondisinya. Kalau biasanya disentuh tangan dan kakinya dia langsung bereaksi, tetapi kemarin sore diam saja”.

Kemudian, sehabis Magrib, sang anak kondisinya terus turun dan napasnya tersengal-sengal.

Mereka pun melaporkannya ke Rumah Sakit Brayat Minulya di mana bayi tersebut lahir.

Tindakan medis seperti pengecekan detak jantung, pernapasan, dan sebagainya terus dilakukan secara intensif hingga pukul 18.00. Kondisi Arkan sempat stabil. Napas yang sebelumnya tersengal-sengal, kembali normal. Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Napas Arkan kembali tersengal.

Ia mengakui sebelum meninggal dunia, bayi yang lahir tanpa tempurung kepala tersebut selalu rutin dicek oleh dokter sebanyak dua kali sepekan.

“Dicek berat badan dan denyut nadi, tetapi memang sejak lahir hingga akhirnya meninggal itu berat badannya terus mengalami penurunan, dari 3,8 kg menjadi 2,9 kg,” jelasnya.

Meski sejumlah dokter mengatakan bahwa bayi tersebut tidak mampu bertahan hidup lebih lama, ia bersama sang suami tetap berupaya mengasuh dengan sepenuh hati.

“Dokter sempat bilang kalau kemungkinan 70 persen meninggal di kandungan, tetapi akan saya teruskan sampai kapan bertahan,” terangnya.

“Semuanya saya USG empat dimensi, tetapi hasilnya sama saja. Bahkan, tiga dokter di antaranya menyarankan untuk mengeluarkan saja mumpung masih kecil, kalau sudah besar akan sulit. Tetapi menurut saya empat bulan sudah bernyawa, sudah ditiupkan roh. Kasihan, dia ingin hidup sehingga saya putuskan untuk melanjutkan,” katanya.

Ia mengatakan menurut dokter, kondisi bayi Arkan tersebut terjadi karena masuknya virus toksoplasmasis pada saat pembentukan janin di usia dua bulan.

Pasutri tersebut mengatakan bahwa tepat pukul 21.00, Arkan dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

“Hasil pemeriksaan, pembuluh darahnya pecah. Kedua tangan dan tubuhnya lebam-lebam karena pembuluh pecah,” tuturnya.

Tags: , ,