Sistho A. Sreshtho : “Saya Bersyukur Menjadi Bagian dari Sejarah ini”

Masa pandemi yang meluluhlantahkan bisnis perhotelan di Solo Raya membuat para pelaku bisnis terkait untuk putar otak lebih agresif untuk bertahan. Saat ada masa pelonggaran dari Pemerintah Kota Surakarta dan pusat pada bulan Juni  lalu, bisnis hotel di Solo Raya  perlahan-lahan bangkit. Hotel-hotel di Solo Raya seakan-akan beramai-ramai memberikan harga  promo yang  luar biasa supaya tingkat okupansi hotel naik.

Humas  erhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta, Sistho A. SRESHTHO, ST, CHA, dalam wawancaranya secara eksklusif dengan Soloraya.id, Jumat (25/09/2020) mengatakan bahwa promo tarif ini seutuhnya adalah inisiatif dari masing-masing hotel. PHRI dalam hal ini tidak bisa memberikan kebijakan yang berkenaan dengan tarif hotel dan hal-hal yang berkaitan dengan dapur masing-masing hotel.

Namun diakui Sistho, penerapan harga promo kamar  hotel yang beragam saat ini menjadi parameter naiknya tingkat okupansi hotel Solo Raya sebanyak 33 persen, hampir separuh dari jumlah sebelum masa pandemi, yaitu 70 persen. Dalam hal ini Sistho mengerti upaya yang dilakukan oleh hotel karena melihat situasi perekonomian juga sedang sulit

Sistho juga menyampaikan bahwa segmen bisnis perhotelan di Solo Raya ini bergantung pada government (pemerintahan) dan corporate (perusahaan) yang berasal dari kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Namun saat adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penurunan omset benar-benar dirasakan karena nilainya sangat besar, khususnya segmen corporate.

Meskipun pasar corporate hilang, masih ada dua segmen pasar yang bisa diperjuangkan, yaitu pasar government dan pasar family atau leisure (keluarga/wisata). Saat ini banyak dari  pemerintahan yang melakukan rapat terbatas di hotel-hotel dan banyak keluarga yang ingin melakukan liburan sederhana dengan menginap di hotel karena dirasa masih aman.

Baca Juga:  Kepala Sekolah Hingga Ormas, Deklarasi Tolak Demo Anarkistis Untuk Solo Kondusif

Namun yang bisa memberikan fasilitas kepada mereka (government dan family) ini adalah hotel dengan taraf bintang 3 keatas yang memiliki fasilitas kamar yang memadai  dan memungkinkan untuk ditinggali dengan banyak orang dari 2 segmen pasar tersebut.  Hal inilah yang membuat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) di hotel bintang 4 mengalami kenaikan sebesar 29,31% berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Surakarta.

“Semakin tinggi bintangnya, semakin besar kamarnya dan semakin besar ruang pertemuannya. Untuk market family, tentunya dalam satu kelarga ada bapak/ibu dan anak-anaknya serta pengasuhnya sehingga mereka perlu large room dan kamar seperti ini tidak tersedia di hotel-hotel yang berkamar kecil sehingga inilah yang menjelaskan bagaimana hotel bintang 4 mengalami peningkatan yang tinggi.” Jelas Sistho dalam analisanya

Sistho yang juga merupakan General Manager Alana Hotel & Convention Center Solo mengaku bahwa hotelnya mengalami peningkatan ini karena konsep pasar government dan family sendiri sudah diusung lama oleh dirinya jauh sebelum pandemi karena mengingat lokasi hotelnya jauh dari pusat kota. Tercatat dari  tingkat okupansi hotelnya hingga bulan ini mencapai 55 persen selama 2 bulan terakhir dari 247 kamar yang ada di Alana Hotel Solo.

Baca Juga:  Cegah Covid-19, Guru, Staff dan Siswa Sekolah Jalani Rapid Test Sebelum dan Sesudah PTM

Meskipun semua fasilitas yang ada di hotelnya sudah dibuka namun Sistho  tetap menerapkan pembatasan sesuai protokol kesehatan yang berlaku, misalnya untuk kolam renang hanya dibatasi maksimal 8 orang dan kolam renang hanya diprioritaskan untuk tamu saja, itupun tamu hotel harus melakukan registrasi dahulu untuk menentukan jamnya.Untuk tempat kebugaran hanya maksimal 5 orang, hingga breakfast maksimal 30 menit untuk masing-masing tamu. Sistho mengaku prosedur ini bisa diterima oleh tamu karena memang untuk kebaikan bersama

“Alhamdulilah Tiap weekend kita [Alana] bisa tembus 90 persen untuk okupansi kamar” ungkap Sistho

Sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan dan tamu atas kepercayaan yang diberikan kepada hotelnya, Sistho beserta segenap staff memutuskan untuk menggelar rapid test yang menjadi agenda rutin setiap bulannya. Agenda pertama sudah digelar pada hari Rabu (23/09/2020) lalu.

Bagi Sistho, sebagai hotel  dengan predikat Hotel Bintang 4 terbaik di Jawa Tengah serta predikat safe travel sudah semestinya menggelar agenda ini secara rutin untuk memberikan kesan aman dan nyaman kepada para tamunya di masa pandemi.

“Kita ini generasi terpilih untuk  menjadi pelaku utama di situasi seperti ini [pandemi] dan meletakan dasar-dasar teori baru di bidang hospitality industry, if I  may say it’s like founding fathers [bisa disebut bapak bangsa] dan saya bersyukur bahwa saya bagian dari sejarah ini.” Ungkap Sistho

Tags: , , , ,