Soal Kebohongan Siswi SMP yang Berujung Pemenggalan Guru di Prancis

Soal Kebohongan Siswi SMP yang Berujung Pemenggalan Guru di Prancis

Fakta baru soal tragedi pemenggalan seorang guru sejarah di Prancis usai menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya, tahun lalu akhirnya terungkap.

Seorang siswi sekolah di Prancis mengaku telah berbohong tentang guru sejarah dan bahasa Prancisnya, Samuel Paty, yang dipenggal karena kartun Nabi Muhammad.

Pemenggalan itu secara tak langsung dipicu oleh kesaksian bohong yang disampaikan siswi berusia 13 tahun, yang diskorsing sekolahnya karena membolos tersebut.

Ia sengaja mengarang cerita agar sang ayah tidak marah kepadanya.

Surat kabar Prancis, Le Parisien, pada hari Minggu (7/3/2021) waktu setempat mengungkapkan bahwa siswi dengan inisial Z itu, mengakui bahwa dirinya berbohong dengan menuduh Samuel Paty meminta siswa-siswi Muslim untuk keluar kelas sebelum menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad tersebut.

Sekitar 10 hari kemudian, Paty tewas dipenggal oleh seorang teroris bernama Abdullakh Anzorov, yang akhirnya juga tewas di tangan polisi. Insiden tersebut menghancurkan keluarga Paty dan membuat publik Prancis trauma.

Le Parisien juga melaporkan secara detail kebohongan dari siswi tersebut.

Ia mengaku tidak berada di dalam kelas saat Paty menunjukkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad dari surat kabar satire Prancis, Charlie Hebdo, kepada siswanya.

Kebohongan tersebut dilakukan pada 6 Oktober 2020, Paty yang seorang guru sejarah dan geografi ini membahas soal tema ‘dilema’ dalam salah satu kelasnya.

Ia melontarkan pertanyaan yang berbunyi “Menjadi atau tidak menjadi Charlie?” yang merujuk pada tagar #JeSuisCharlie yang banyak digunakan untuk mendukung surat kabar satire Charlie Hebdo usai kantornya diserang teroris pada Januari 2015 yang menewaskan 12 orang.

Paty disebut telah meminta siswa-siswi Muslim di dalam kelasnya yang dianggap akan terkejut untuk menutup mata mereka atau berdiri sebentar di koridor saat dia menunjukkan karikatur itu kepada siswa lainnya.

Dua hari kemudian, sang siswi berinisial Z itu memberitahu ayahnya bahwa Paty meminta siswa Muslim untuk meninggalkan ruang kelas sebelum dia menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

Siswi tersebut menyebut dirinya telah menyatakan tidak setuju dengan Paty dan Paty malah menskorsing dirinya selama dua hari.

Sepuluh hari setelah siswi tersebut menceritakan itu ke ayahnya, Paty dipenggal oleh Abdullakh Anzorov yang berusia 18 tahun, seorang pengungsi dari Moskow berdarah Chechnya yang kemudian ditembak mati oleh polisi saat kejadian.

Kebohongan tersebut telah memicu tewasnya Paty, yang merupakan ayah dari seorang bocah berusia 5 tahun.

Para penyidik menyebut bahwa siswi itu menderita ‘inferiority complex‘ dan sangat menghormati ayahnya.

Terkait kasus tersebut, sang siswi didakwa melontarkan fitnah dan ayahnya didakwa terlibat dalam pembunuhan teroris.

Siswi itu telah didakwa dengan tuduhan fitnah yang menyebabkan kematian. Pengacara keluarga Samuel Paty juga menuduh Brahim Chnina, ayah dari siswi, berbohong. Chnina dan seorang aktivis Islam, Abdelhakim Sefrioui, keduanya dituduh “terlibat dalam pembunuhan” dan ditahan dalam penahanan pra-peradilan.

Sebanyak empat belas orang telah didakwa dalam kasus tersebut, termasuk enam siswa sekolah itu, tiga teman penyerang, dan tiga orang muda yang berhubungan dengannya di jejaring sosial.

Tags: , ,