Sragen Darurat Kasus Kekerasan Seksual Anak

Sragen Darurat Kasus Kekerasan Seksual Anak

Kasus kekerasan seksual yang tejadi pada kalangan anak di Kabupaten Sragen cukup miris.

Pada awal tahun 2021 ini saja, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Sragen sudah menerima laporan empat kasus kekerasan seksual anak di bawah umur.

Data DPPKBPPPA Sragen menunjukkan bahwa kasus pada perempuan dan anak di Sragen cukup tinggi.

Pada awal tahun 2021 saja sudah terdapat empat kasus.

Sedangkan pada 2020 secara akumulasi tercatat 35 kasus yang ditangani oleh DPPKBPPPA Sragen.

Empat kasus terbaru pada tahun 2021 tersebur adalah pencabulan yang dilakukan pada anak usia SD yang ditangani Polres Sragen, kasus persetubuhan pada anak di bawah umur, kasus perkosaan pada anak di bawah umur, serta pernikahan usia dini.

Melansir dari radarsolo, Joko Puryanto selaku Sekretaris DPPKBPPPA Sragen menerangkan bahwa kondisi seperti ini seperti fenomena gunung es.

Baca Juga:  Polresta Solo Sita 47 Motor di Panularan Solo

Karena bisa jadi kasus yang belum terungkap dan tertangani masih banyak.

Joko mengatakan, “Bisa dikatakan Sragen kondisi darurat kekerasan seksual pada anak”.

Joko juga enggan menjabarkan terkait lokasi kejadian kasus tersebut dengan alasan demi melindungi korban.

Selama ini, pelaku yang melakukan aksi keji tersebut sudah dinilai memasuki usia dewasa.

Meski tindakan itu dengan alasan persetubuhan didasari suka sama suka, selama masih di bawah umur adalah termasuk kategori pelanggaran hukum.

“Kasusnya pelaku dewasa semua, ada sama-sama suka, ada bujuk rayu, ada pula modusnya diajak nonton film BF (blue film)”, ungkap Joko.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) pun membentuk Pos Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) di tingkat desa dan kecamatan.

Untuk informasi, PPPA ini merupakan kepanjangan tangan dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang berada di lingkup kabupaten.

Baca Juga:  Pengelola Stadion Manahan Solo Belum Terima Pemberitahuan Soal Venue Piala Menpora

Pos ini bertujuan untuk memudahkan pelaporan dan penanganan kasus jika terjadi tindak kekerasan.

Selain itu, paya pencegahan juga dilakukan dengan penyuluhan dan sosialisasi. Joko menyampaikan, bahwa pihaknya juga menggalakkan pendidikan reproduksi, karena di masyarakat masih banyak yang menganggap ini sebagai hal yang tabu.

“Pendidikan reproduksi itu boleh, asalkan tidak dipraktikkan saja. Intinya sudah memberi pemahaman pada anak sejak dini”, jelasnya.

Selama ini cukup banyak korban yang masih jenjang sekolah dasar.

Joko juga menegaskan, “Kami juga melakukan pendampingan pada para korban”.

Seperti yang diketahui, proses untuk pemulihan psikologi korban juga berbeda-beda waktunya. Untuk itu diperlukan adanya peran pendampingan yang intens kepada korban.

Tags: , ,